Kilas Berita :

BERITA UTAMA

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Terbaru

Index Berita Berdasarkan Topik
Index Berita Berdasarkan Topik

FSLDK Rayakan Hari Ibu Dengan Berbagi Jilbab Gratis

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 29 Des 2012 | 12/29/2012

“Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…” demikian syair yang popular dinyanyikan anak-anak.  Ditemani sejuknya udara pagi kota Bogor, belum lama ini FSLDK menggelar suatu kegiatan aksi yang bernama “FSLDK CINTA IBU” dalam rangka memperingati hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember.

Aksi ini dimulai sekitar pukul 7.00 WIB pagi di Tugu Kujang, Bogor. Diawali dengan pembukaan oleh perwakilan Jaringan Muslimah Nasional (Jarmusnas) dan sambutan yang disampaikan oleh Suti’ah sebagai ketua Jaringan Muslimah Daerah (Jarmusda) Priangan Barat, aksi yang diikuti oleh sekitar 30 orang muslimah ini resmi dibuka.

Dilanjutkan dengan long march menuju Lapangan Sempur Bogor. Sepanjang perjalanan tak hentinya dinyanyikan lagu “Kasih Ibu” sebagai bentuk pengingat kepada kita semua bahwa perjuangan dan kasih sayang seorang ibu begitu berarti tak tak akan putus oleh waktu. Selain itu dilaksanakan juga aksi pembagian jilbab, bunga, serta souvenir hari ibu lainnya kepada ibu-ibu yang dijumpai sepanjang perjalanan.

“Ibu Madrasah Pertamaku, Inspirasi Hidupku” itulah tema hari Ibu nasional yang diangkat oleh Jaringan Muslimah Nasional Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (Jarmusnas FSLDKI) pada tahun ini.

FSLDK mencoba untuk meneladani kembali peran seorang ibu dalam mencetak generasi robbani menuju Indonesia madani.

Menurut FSLDK, hakikatnya menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan dan kesempurnaan bagi seorang perempuan. Hanya saja peran yang dimilikinya bukanlah peran yang sedehana. Untuk menjadi seorang ibu bukan hanya berkualitas secara pengalaman, namun juga perlu dilandasi oleh ilmu pengetahuan yang berkualitas.

Sosok ibu lah yang paling dekat dengan putra-putrinya, karena beliaulah yang mengandung dan membawa kita kemana-mana selama 9 bulan dalam rahimnya. Setelah terlahir, kita menangis namun orang di sekitar kita tersenyum dan menyambut dengan suka cita terutama ibu kita. Kemudian sebagaimana ajaran Islam, seorang ibu harus menyusui anaknya hingga berusia 2 tahun, dari situlah terbangun sebuah komunikasi yang kadang hanya ibulah yang mengerti semua itu.

“Sungguh, kasih sayang yang ibu berikan tak akan terbalas oleh apapun. Sedangkan kita terkadang merasa enggan bahkan didominasi oleh rasa gengsi untuk meminta maaf pada ibu, di saat kita melakukan kesalahan,” demikianlah pesan-pesan Hari ibu yang disampaikan oleh perwakilan dari IPB, AKA, dan Universitas Pakuan dalam orasinya pada aksi di Lapangan Sempur kali ini. Aksi diakhiri dengan penutupan dan foto bersama.

Semoga momentum hari ibu bukanlah perayaan tahunan belaka. Namun, kita dapat mengimplementasikan bentuk perhatian dan kasih sayang kita pada ibu di setiap harinya.

| Hidayatullah.com

Cukup Katakan "Afwan, jika ada hal penting sms aja"

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 12 Nov 2012 | 11/12/2012

Cerita Pertama: Seorang ikhwan yang baru saja menerima telepon dari seorang akhwat yang memang merupakan partnernya dalam sebuah organisasi dakwah, senyum-senyum sendiri setelah selesai berbicara dengan akhwat di seberang sana melalui telepon. Kemudian teman sang ikhwan bertanya, “kenapa Antum senyam-senyum begitu? Dapet hadiah undian ya?” goda temannya. “Huuss apaan si Antum ini akh, memangnya siapa yang ikut undian? Ni tadi ukhti fulanah baru saja menelepon Ana.” jawabnya masih dengan senyum sumringah. “Lah terus kenapa meski pake senyam-senyum begitu, memang ukhti fulanah itu menelepon Antum untuk hal apa hayo? Mau ngajakin ta’arufan ya dia?”tanya teman sang ikhwan penuh selidik. “Ah apaan si Antum ini Akhi, ya nggak mungkinlah itu. Tadi ukhti fulanah menanyakan hal yang berkaitan dengan program kerja di organisasi. Gak tahu kenapa Ana senang sekali jika ukhti fulanah itu menelepon Ana. Hati jadi adem aja gitu dengerin suaranya.””Haaaaa???” teman si ikhwan kaget.

Cerita Kedua: Seorang akhwat memberi tahu teman akhwatnya yang lain bahwa ia baru saja menerima telepon dari ikhwan fulan yang memang merupakan partnernya dalam sebuah organisasi dakwah. Tidak ada hal spesial yang dibicarakan melalui telepon tersebut, hanya menanyakan program kerja di departemen yang menjadi amanah mereka. “Loh kenapa nggak tanya ke ikhwan lain aja? Memangnya ikhwan di departemen anti cuma dia?” Tanya teman sang akhwat. “Nggak tahu deh.” jawab sang akhwat singkat. “Eh ukhti, suara Akhi fulan kalau didengar dari telepon beda loh Ana rasa. Lebih lembut dan berwibawa. “Lanjut sang akhwat menjelaskan. Hmmm…..

Cerita Ketiga: “Tet…tit…tut…tet…tit…tet…tit…tut…tut…” dering hp seorang akhwat tapi enggan dijawab. “Jawab dong ukhti teleponnya, mungkin penting tuh.” desak temannya. Si akhwat begitu tenang dan tersenyum menanggapi desakan temannya. Setelah hp berhenti berdering, tertera tulisan “satu panggilan tak terjawab: Akhi fulan.” Kemudian si akhwat dengan tetap tenang mengetik pesan singkat “afwan Akhi, kalau ada hal yang penting sms saja. Jazakallah khair.” Lalu mengirim pesan itu kepada ikhwan yang meneleponnya tadi. Pesan pun dibalas, “afwan ukhti tadi Ana menelepon hanya ingin bertanya agenda apa yang dibahas saat syura. Tadi Ana berhalangan hadir.”

Tidak dipungkiri, fenomena seperti cerita di atas pernah kita jumpai dalam interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah. Ada rasa “aneh” yang menyergap hati jika seorang ikhwan mendengar suara akhwat tertentu, begitu pun sebaliknya. Ada kicauan-kicauan yang tidak biasa dalam hati saat atau pun setelah mendengar suara itu, “suaranya kedengeran manja banget”; “eh suaranya beda banget ya, kedengeran lebih lembut”; “ah suaranya lucu tapi buat ngangenin”; “hmm suaranya lebih dewasa dari biasanya kalau didengar via telepon”. Dan fenomena ini jika lama dibiarkan akan menyebabkan beberapa efek negatif bagi diri sang aktivis juga bagi keberlangsungan aktivitas dakwah yang sedang mereka geluti. Efek negatif apa? Mungkin, bisa saja timbul virus-virus rasa “tak biasa” yang menyerang software hati yang masih belum terlindungi antivirus hati. Contohnya? Hati jadi kebat-kebut ria karena mendengar suara sang ikhwan atau sang akhwat, tidak nyaman jika ada hal yang dibicarakan harus menggunakan sarana lain semisal sms atau melalui email yang tidak menimbulkan efek suara, dari mendengar suaranya jadi terbayang rupa dan sikapnya, dan kicauan-kicauan “tidak biasa” lainnya yang menggelayut di hati saat mendengar suara ikhwan atau akhwat tertentu. Sebagai aktivis dakwah, memang agak sulit menghindari hal ini dalam berinteraksi. Namun dengan niat yang baik untuk senantiasa saling menjaga hati, insya Allah selalu saja ada solusi yang bisa ditawarkan. Bukankah setiap penyakit ada obatnya? “Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah). Dan setiap masalah ada solusinya? Sesulit apa pun, selalu saja ada kemudahan yang Allah berikan. “Karena sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6). Allah Swt tidak mungkin menurunkan penyakit tanpa menyediakan obatnya. Pun begitu, tidak ada masalah yang tidak ada solusi. Selagi kita yakin dengan Allah dan senantiasa berhusnudzon kepada-Nya, insya Allah segala sesuatu dapat kita atasi.

So solusinya? Mungkin apa yang dipaparkan berikut ini bisa dijadikan sebagai referensi solusi. Sebelum rasa yang “tidak biasa” itu menyambangi dan merusak hati, Allah sudah mengingatkan kita untuk menjaga cara bicara seperti yang Allah Swt firmankan dalam ayat berikut ini: “Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32). Dari ayat tersebut tersirat bahwa kita diwajibkan untuk menjaga bicara khususnya terhadap orang yang bukan mahram kita. “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara”, jangan mendayu-dayu saat berbicara, jangan memanja-manjakan suara, intinya harus tegas dalam berbicara baik melalui telepon mau pun ketika berbicara di forum-forum, di acara atau saat syura dan interaksi lainnya dengan orang-orang yang bukan mahram kita. Maka tegaskanlah cara bicara Anda. Tegas bukan berarti keras atau marah karena dengan tegas berarti kita telah membentengi hati dan menjaga izzah diri. Sebab jika tunduk berbicara maka telah membuka peluang bagi syeitan untuk mempermainkan nafsu, menghembus penyakit dalam hati, menikmati rasa yang tidak biasa dan pada akhirnya akan menjerumuskan kepada zina hati. Karena pada hakikatnya, hati seseorang dapat diketahui dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Apa yang diucapkan oleh lidah bisa dijadikan parameter untuk menilai keistiqamahan iman seseorang. “Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqamah (terlebih dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga lidahnya beristiqamah (terlebih dahulu).” (HR. Ahmad dari Anas RA). Dan pada hadits lain dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh akan memberikan peringatan kepada lidah dan berkata, ‘Takutlah engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila kamu istiqamah kami akan istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng’.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Yahya bin Mu’adz berkata: Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di dalam hatinya, dan lidah itu bagaikan gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin dan sebagainya. Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana “rasa” hatinya, adalah apa yang ia keluarkan dari lidahnya.

“Dan ucapkanlah perkataan yang baik.” termasuk penggalan ayat dalam surah Al-Ahzab ayat 32. Perkataan yang baik yaitu berbicara dalam hal-hal yang dapat membawa manfaat dan kebaikan serta mampu menahan lidah dari ucapan yang bathil yang bisa merusak hati. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan hal-hal yang baik atau diam saja” (HR. Bukhari-Muslim).

Lalu bagaimana jika ada hal urgen yang memang harus diselesaikan melalui telepon antara ikhwan dan akhwat karena tidak efektif dirasa jika harus disampaikan melalui sms atau email? Maka hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan hal tersebut dengan baik dan efektif. Baik dalam arti menggunakan kata-kata yang formal, singkat, padat, jelas dan tegas. Dan efektif menggunakan waktu dalam menyampaikan hal itu melalui telepon. Fokus pada tujuan awal agar hal-hal di luar bahasan tidak perlu diutarakan (hemat pulsa, heheh). Jika diharuskan, seorang ikhwan yang akan menelepon akhwat atau sebaliknya untuk urusan kegiatan atau kerja dakwah bisa meminta orang lain untuk mendampinginya saat menerima telepon dari seorang yang bukan muhrimnya. Misalnya dengan mengatakan, “iya mau bicara apa akh/ukh? Kebetulan di samping Ana ada Akhi fulan/ukhti fulanah.” Mengapa hal ini perlu dilakukan? Agar hal yang disampaikan baik dan efektif sesuai dengan urgentifitas hal tersebut dan untuk mengantisipasi terjadinya ikhtilath. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad). Setan itu sangat lihai mengambil celah untuk menggoda manusia dengan mempermainkan nafsunya. Ikhtilath tidak hanya terjadi dalam interaksi nyata namun bisa juga terjadi melalui telepon bahkan saat berinteraksi melalui jejaring sosial dunia maya. Dengan adanya orang yang mendampingi saat membahas hal urgen tersebut melalui telepon diharapkan komunikasi menjadi lebih terjaga. Sebaiknya, jika dalam sebuah syura, forum diskusi dan acara apa saja yang melibatkan interaksi ikhwan dan akhwat diharapkan semua peserta yang menghadiri acara tersebut mencatat hal-hal penting yang disampaikan. Ini bertujuan agar teman-teman lain yang memang kebetulan tidak dapat menghadiri acara tersebut dan ingin mengetahui pembahasan yang dihasilkan dapat bertanya kepada teman semuhrim. Karena dengan teman semuhrim lebih leluasa menyampaikan apa saja hal yang ingin dipertanyakan (sekalian curhat juga boleh, heheh). Dan kalau pun masih ada yang menanyakan hal itu kepada seorang yang bukan muhrimnya, cukup katakana, “afwan Akhi/ukhti, jika ada hal yang penting sms saja.” Wallahu’alam bishawab.


| Dakwatuna


Dakwah Kemuslimahan sebagai Segmen Unik dan Potensial: Masihkah Tersia-siakan ?

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 18 Okt 2012 | 10/18/2012

”Of knowledge we have none, save what You have taught us” (Quran 2:32)

”Sesungguhnya wanita itu adalah pendamping pria.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Pernyataan tersebut adalah sabda Rasulullah Saw. ketika beliau diutus ke dunia. Sejak saat itu, paradigma pemikiran dan perlakuan terhadap wanita berubah seratus delapan puluh derajat. Kedudukan wanita diangkat dan dimuliakan. Wanita dikatakan sebagai pendamping pria sebab pada setiap kesuksesan seorang pria pasti ada peran wanita yang sangat signifikan.

Hal penting yang akan selalu lekat dengan bagian hidup manusia adalah sejarah. Peran muslimah dalam jihad Rasulullah Saw. sangat signifikan. Sebagian besar mereka yang hijrah ke Habasyah pergi bersama istri mereka. Bahkan, sejarah Islam mencatat bahwa manusia yang pertama kali menyambut dakwah Islam adalah seorang wanita, yaitu Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Saw. Manusia pertama yang syahid di jalan Allah juga seorang wanita, yaitu Sumayyah. Selain Khadijah r.a. dan Sumayyah, masih banyak wanita-wanita Islam yang namanya abadi, yang menjadi pemegang peranan penting dalam dakwah Rasulullah Saw., seperti Aisyah r.a., Ummu Sulaim, Nusaibah, dan Asma binti Abu Bakar. Coba perhatikan kembali sejarah penting ini, tampak bahwa wanita dengan segala kelebihannya mampu berperan penting dalam perjalanan dakwah di masa Rasulullah Saw. Lalu, bagaimana dengan dakwah kita hari ini?

”Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik [...]” (QS. 16:97).

”Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan [ ...]” (QS. 3:195)

Dakwah muslimah seyogyanya menjadi sesuatu yang terinternalisasi dalam diri setiap muslimah yang memang telah tergerak hatinya untuk berada di jalan dakwah. Di manapun ia berdakwah, target utama yang dituju adalah wanita. Walau sebenarnya, siapapun, wanita ataupun laki-laki, dapat melakukan dakwah kepada wanita karena tidak ada larangan atau perintah yang mengkhususkan dakwah kepada wanita hanya oleh wanita saja. Pendekatan emosi, ikatan gender, dan cara-cara yang lebih halus pada akhirnya memberikan sentuhan khas mengapa dakwah para muslimah dapat lebih terfokus pada wanita saja.

Kita patut mempertanyakan kembali apakah dakwah muslimah cukup diserahkan kepada fungsi kultural dan personal saja? Wanita adalah ”pasar” yang sangat potensial. Sudah sangat jelas potensi-potensi itu; populasi wanita lebih dari setengah penduduk bumi; peran wanita bagi peradaban sangatlah strategis; wanita memiliki kekhasan serta kebutuhan tersendiri; pengangkatan isu diskriminasi yang pernah dialami wanita oleh sebagian orang (mereka ingin menjadikan wanita setara dengan laki-laki dalam segala hal, padahal ini sesuatu yang bias menurut takaran Islam).

Penyikapan oleh kemuslimahan harus dimulai dari sini sebab kemuslimahan adalah bagian dari dakwah. Dalam ke-syumul-an dakwah Islam yang diupayakan oleh dakwah kampus, lini-lini dakwah disegmentasi berdasarkan fungsinya. Kemuslimahan merupakan segmen yang sangat besar dan potensial.

Uniknya, wanita memiliki berbagai kekhasan dari segmen ini hingga memunculkan kebutuhannya sendiri—mulai dari pengetahuan, kesehatan, pendidikan, keterampilan, sampai pengembangan potensi dan kompetensi. Syari’at dalam berdakwah—yang mewajibkan dakwah kepada manusia bagi orang-orang yang terkena taklif—juga membuat dakwah kemuslimahan semakin khusus. Pengelola dan pelaku utama kemuslimahan akhirnya hanya muslimah saja. Pola pendekatan yang diterapkan pun disesuaikan dengan kekhasan wanita. Dengan demikian, perlu ada pengelolaan yang terstruktur, sesuai porsi, dan khusus—tidak bisa disamakan dengan segmentasi yang lain.

Pelaku dakwah kemuslimahan dituntut lebih giat lagi untuk menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan era baru kemuslimahan. Selain itu, pelaku dakwah tersebut juga siap mengakselerasi pengembangan dirinya. Ia harus siap menjadi konseptor sekaligus eksekutor, mau berpikir keras, belajar, peka terhadap permasalahan dan isu kewanitaan, mau mengerjakan hal-hal kecil hingga besar, keluar dari zona nyaman, mendalami Islam dan ideologi yang mengancam keislaman muslimah, berani muncul ke permukaan, siap ditokohkan, dan mampu ”berdiri” di atas kakinya sendiri.

Sejalan dengan tuntutan ini, maka keluhan-keluhan stereotip tentang akhwat yang eksklusif, “lemah”, malu untuk menjadi tokoh, selayaknya tidak perlu terdengar lagi. Terlepas dari tingkat representasi pendapat ini, patutlah diambil pelajaran darinya. Semangat ini bukanlah semangat untuk show up ataupun menang dari laki-laki sehingga menyalahi sunnatullah penciptaan, menghilangkan kodrat kewanitaan. Akan tetapi, ini adalah semangat untuk melakukan yang terbaik dalam memenuhi tuntutan dakwah. Hal ini layaknya semangat untuk mempersiapkan segala kekuatan untuk berperang. Segmen dakwah kemuslimahan yang layaknya puzzle penting bagi kejayaan umat ini maka jangan sampai terus-menerus tersia-siakan. Bangsa ini menunggu kita, para muslimah, untuk berbuat dan berkarya nyata!

Wallahu’Alam Bishawab.
 
 
| Risa Putria Utami

Tutorial PAI MKDU UPI Kampus Tasikmalaya Adakan "Hijab Tutorial"

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 10 Sep 2012 | 9/10/2012

"Cerdas, Ikhlas, Istiqamah" jargon yang selalu di dengung-dengungkan oleh para punggawa Tutorial MKDU UPI Kampus Tasikmalaya menjadi ciri khas tersendiri. Kampus yang berada di kawasan dadaha Kota Tasikmalaya ini telah menjadi lumbung bagi para calon pendidik generasi muda.

Dengan spirit & kepengurusan yang baru bulan Agustus kemarin dilantik dan dinahkodai oleh Luqman Nurdin ini, Tutorial PAI MKDU UPI Kampus Tasikmalaya mengadakan sebuah event bagi para perempuan khususnya.

"Hijab Tutorial" acara yang diadakan oleh Bidang Kemuslimahan ini, akan mengkaji bagaimana seorang perempuan berpenampilan baik dan syari'. "Mau Tampil Cantik Dengan Jilbab dan Modis, Tapi tetep Syari' ? temukan di acara ini". Bicara kenapa perempuan harus cantik dengan berjilbab, baca juga cerita ini http://fsldkpritim.blogspot.com/2012/09/pagi-hari-aku-pun-mulai-berjilbab.html
 
Acara ini insyaAllah akan diadakan pada hari Jum'at, 14 September 2012 Pukul 08.00 s.d selesai bertempat di UPI Kampus Tasikmalaya dengan uang pendaftaran hanya Rp. 10.000 Murah kan :). Selain itu peserta juga akan mendapatkan berbagai fasilitas seperti konsumsi, ticket, member hijab, tutorial dan tentunya ilmu.

Jadi sobat, ayo buruan daftarin karena terbatas hanya untuk 20 orang saja. Informasi lebih lengkap dan pendaftaran Hub Ai Nur'aini CP. 0857 2384 8019

 
 
 
 

Pagi Hari, Aku Pun Mulai Berjilbab

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 6 Sep 2012 | 9/06/2012

Ilustrasi
Pagi itu Indah biasa bersiap untuk berangkat sekolah dasar, Akan tetapi menjadi pagi paling lama bagi Indah dalam mempersiapkan seragam. Satu setengah jam sudah dia melenggak lenggok di depan cermin. Sebuah kain putih yang meliuk di kepalanya coba ia tarik ke sana sini untuk mencari posisi yang pas.

Masih belum puas dengan yang dilihatnya di dalam cermin, Indah sudah mendapat satu seruan keras dari ibunya. “Indaaaah…! Ayo cepat sarapan! Sebentar lagi waktunya pergi sekolah,” teriak ibu Indah. Deg.... Indah tiba-tiba tegang apa yang dia kenakan sekarang membuatnya ragu bahkan untuk diperlihatkan kepada ibunya sendiri. Dengan langkah gontai, Indah melangkahkan kaki keluar kamarnya menuju ruang makan. Indah segera menarik kursi makan dan mendudukinya dengan anggun. Ia memandang sayu ke atas sajian meja makan.

Bukan, matanya bukan memandangi makanan yang tersaji dan siap santap buatan ibunya, melainkan ia curi-curi memandang bayangan dirinya yang terpantul dari apa saja benda mengkilat di atas meja sambil sesekali mencoba menggeser-geser lipatan kain yang menutupi rambutnya.“Indah ayo segera makan, nanti telat!” suara ibunya dari dapur mulai terdengar.Dengan tangan membawa satu mangkok besar berisi sayur sop yang masih panas, ibu Indah berjalan masuk ke ruang makan. “Eh eh!” Hampir saja harta karun pagi itu tumpah satu mangkok.

Ibu Indah kaget karena melihat sesosok gadis sangat cantik nan manis yang memasang muka merah merona melemparkan senyum padanya. Karena keelokan penampilannya, ibu Indah sempat tak mengenali gadis yang duduk di meja makan itu. Gadis itu mengenakan jilbab cantik warna putih dengan hiasan bross abu-abu menempel di bawah pundak sebelah kiri. Dua detik kemudian, gadis itu melempar suara, “Mah, gimana jilbab Indah? Sudah betul belum?”. “Subhanallah. Ini anak siapa..? Kok cantik banget? ” komentar ibunya membalas pertanyaan anak perempuan satu-satunya itu.

Ibu Indah berjalan mendekati Indah lalu sedikit membungkukkan badannya hingga kepalanya sejajar dengan Indah.Ia apit lembut pipi anak kesayangannya dengan kedua tangannya. Ia tatap dalam-dalam mata Indah. Belum ibunya sempat berkata-kata, Indah bertanya heran, “Ih, ada yang salah ya Mah? Bagian yang mana yang belum rapi??”Sambil Indah menarik-narik ujung jilbabnya mencoba memperbaiki yang sebenarnya tidak salah. “Bukan, Indah. Mamah sedang bertasbih kepada Tuhan. karena atas kuasa-Nya, Mamah dikaruniakan seorang anak

gadis yang cantik rupawan.

Akan tetapi gadis ini kemudian menetapkan hati untuk tidak memberikan kecantikannya itu ke sembarang orang. Ia memilih untuk menutupnya dan hanya akan kemudian membukanya kepada orang yang halal melihatnya.” Indah menatap mata ibunya yang berkaca-kaca. Ia mendengar seluruh perkataan ibunya yang diucapkan dengan intonasi penuh cinta.Ibu Indah melanjutkan, “Nak, Indah mengambil pilihan yang tidak ringan cz dilakukan dalam lingkungan dan

zaman sekarang.Tapi indah berani"."Indah tidak hanya cantik di mata manusia. Kecantikannya akan menjadi berita langit yang sampai ke surga. Hingga surga akan merindukannya kelak.” Indah semakin dalam meresapi kata-kata ibunya.

Ia teringat bahwa sebelum hari ini, Indah selalu menolak permintaan ibunya agar ia segera memakai jilbab. Ia takut dijauhi teman-temannya. Ia takut dibilang tidak gaul, tidak modern, tidak mengikuti gaya. Tapi tidak hari ini. Dengan hati yang kukuh, ia sudah sedikit paham bahwa berhijab adalah salah satu perintah wajib. yang dengan karenanya derajat wanita akan sampai pada tempat yang tinggi sesuai fitrahnya. Juga yang akan menjaga dirinya dari gangguan. Pun yang akan membentenginya dari perbuatan kurang baik.

“Doaku untuknya semoga gadis itu diberikan ke-istiqomahan dan kebaikan dari ketaatannya melaksanakan perintah ini.” Ibunya menutup kalimatnya dengan sebuah doa yang langsung melelehkan air mata Indah. Seketika itu, Indah peluk ibunya yang ada di hadapannya dengan sangat erat. Dalam pelukan, Indah berkata lirih pelan di samping telinga ibunya. Gadis itu berjanji, "Mah, indah tidak akan lupa kewajibannya itu sebagai seorang muslimah sampai kapanpun".

Sahabat, tahukah siapa Indah itu ?. Ya...Ia tidak jauh dan bukan siapa siapa lagi, ia ada dalam hatimu sendiri.... sumber : twitter @PUSKOMDA_PRITIM

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun, Ukh Harlisa Koord. Jarmusda FSLDK Sulawei Tenggara Telah Meninggal

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 16 Agu 2012 | 8/16/2012

Alm. Ukh Harlisa (tengah)
Innalillahi wa inna ilaihi raajiun, satu lagi saudara seperjuangan kita di dunia dakwah kampus indonesia telah meninggalkan kita semua. Beliau bernama Harlisa yang sedang diamanahi sebagai Koordinator Jaringan Muslimah Daerah  (Jarmusda) PUSKOMDA FSLDK Sulawesi Tenggara 2011.

Perempuan kelahiran 11 November 1989 ini, kita yakin tentunya banyak sekali sumbangsih besar atau kecil nya bagi dakwah kampus di Sulawei Tenggara pada khususnya. Meski kita tidak mengenal atau sudah mengenal tetap jika kita kehilangan saudara apalagi dalam perjungan dakwah kampus ini terasa ada yang kurang. 

Kabar yang admin terima dari salah satu teman dekatnya, sebelum meninggal beliu mengalami sakit setahun yang lalu dan dirawat di Rumah Sakit dan masih sempat bisa berkomunikasi. Rencana hari ini mau dibawa ke makassar untuk cuci darah, tapi Allah berkehendak lain. Tadi pagi sudah mengalami gagal ginjal dan Allah pun menjemputnya.

Dalam akun FB beliau (http://www.facebook.com/harlisa.skm?sk=wall) , ada pesan yang harus kita tauladani "Teruslah beramal walaupun tidak banyak orang mengenalmu, Jadilah seperti Jantung yang tak terlihat tetapi selalu berdenyut setiap saat hingga memberikan kehidupan". 

Kita do'a kan semoga iman & islam serta seluruh amal sholeh beliau diterima oleh Nya. Allahhummaghfirlaha warhamha wa'aafiha wa'fu anha ... aamiin.


 

LDK RM UNIGAL Ciamis Adakan "SUPERWAH"

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 12 Mar 2012 | 3/12/2012

Sahabat,,Nyobian nimbrung di Blog baru kita ni,,he ^^
Cuma mau melaporkan dan berbagi cerita.
Alhamdulillah, kemarin hari Jum’at, tanggal 02 maret ’12, Keputrian Raudlatunnisa LDK RM mengadakan SUPERWAH (Suplemen Rutin Wanita Shalehah) sesi “keterampilan muslimah”. Pada hari itu kita mencoba merangkai bunga-bunga dari kantong kresek warna-warni..dengan tutor kita Ukh Emmie Apriani . Beliau dengan semangatnya menghimbau bahwa kresek-kresek bekas itu bisa dimanfaatkan untuk kerajinan yang lucu-lucu dan unik, diantaranya kerajinan bunga. Dan eiits, ternyata selain untuk koleksi hobi, bunga-bunga tersebut bisa di pasarkan juga lho ( tentunya kalo kita sudah professional dalam membuatnya, hehe).
Meskipun peserta yang hadir pada acara tersebut terbilang  sedikit (maklum, hari jum’at jadwalnya mudik, ^^), namun antusiasme mereka begitu besar, terbukti dengan hasil karya yang mereka buat. Dengan teliti para peserta memperhatikan tutorial pembuatan bunga tersebut dari awal hingga akhir, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari melohok kebingungan hingga tersenyum riang. Lho?. di hari itu, kami berhasil membuat beberapa bunga yang manis. Ada yang mengatakan itu mirip bunga lily, ada juga yang berpendapat mirip bunga Daffodils, bahkan ada yang bilang bunga-bunga itu mirip mawar.) uups. Tujuan dari acara ini adalah untuk mempersiapkan para kader akhwat yang kreatif, inovatif serta inspritaif di lingkungan masyarakat kelak. Sesuai dengan jargon SUPERWAH kita, “Sejukan Hati Tebarkan Inspirasi”. Harapan ke depannya, mudah-mudahan SUPERWAH bisa terlaksana secara konsisten dan kontinyu, serta menginspirasi para muslimah, khususnya yang ada di kampus ini
Sejauh ini, SUPERWAH telah terlaksana dengan lancar, namun, Melihat kondisi peserta yang sering terlihat minim jika acara SUPERWAH di adakan hari Jum’at, maka ketua keputrian Raudlatunnisa, ukhti Yesi Afifah menghimbau bahwa untuk jadwal Kajian SUPERWAH (Suplemen Rutin Wanita Shalehah) insya Allah akan digeser ke hari senin sore, dengan alasan para kader Raudlatunnisa ataupun para mahasiswi sudah kembali beraktifitas di kampus.
Back to kreatifitas Muslimah..!! inilah hasil karya kita. Walaupun masih biasa-biasa saja dan belum serapih karya seniman professional, namun inilah hasil belajar kita,,mudah-mudahan ke depannya lebih terampil en lebih baik lagi. Aamiin
Oh ya, tak lupa kami mengucapkan Syukron jazkilah en thanks a lot to akhwaty yang sudah ikut berpartisipasi dalam acara SUPERWAH kemarin, en bagi antunna teman-teman yang kemarin tidak ikut, jangan bersedih dan berkecil hati, karena masih banyak SUPERWAH-SUPERWAH berikutnya,,Insya Allah. So, Mari bergabung di acara-acara kami selanjutnya..mari merajut ukhuwah, silaturrahim dan be more  creative !! kami menantimu dalam balutan ukhuwah ..^^ Selalu. (YFA)

Becareful Zona Nyaman Sang Aktivis!

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 21 Feb 2012 | 2/21/2012

Selamat tinggal wahai dunia duka
Dan selamat datang wahai dunia iman
Burung yang patah sayapnya takkan mati karena lukanya….
Wahai hatiku yang sedih perangainya
Sungguh kesedihan itu telah meninggalkan diriku

Kan terbang aku ke dunia cinta
Karena aku Muslim yang membumbung dengan iman
Gelarku adalah Muslim dan itu cukup bagiku
Aku termasuk kedalam tentara keimanan

Al Qur’an adalah cahaya dan sinar
Islam adalah kecintaan dan kerinduanku
Di bawah naungan agama aku hidup
Untuk menebus keislamanku yang nyaris sirna…
Sehingga aku menjadi khalifah di dunia
Dan mengibarkan tinggi-tinggi panji Al Qur’an

Lirik nasyid dari Izzatul Islam di atas, menggambarkan tentang hijrahnya seorang manusia. Dan hijrah yang dimaksud di sini adalah beralihnya manusia dari masa kegelapan jahiliyah menuju masa iman yang terang benderang.

Membuka Border, Hijrah Kedua

Saat seseorang baru hijrah menuju ke arah yang lebih baik, umumnya hal pertama yang dilakukan adalah membangun “border” untuk diri sendiri dengan cara menjauhi lingkungan maksiat yang sekiranya dapat membahayakan keselamatan akidah dan akhlaknya. Namun sebaiknya seorang muslim tidak selamanya ada dalam kondisi ini karena ia harus meningkat menuju hijrah selanjutnya. Sebuah hijrah yang bisa diistilahkan sebagai “hijrah kedua”, yaitu hijrah dengan cara membuka “border” yang pernah dibangunnya karena ia telah “imun” (kebal).

Hijrah kedua, dimana setelah melakukan perbaikan akidah dan akhlak diri dalam “border”-nya, ia terjun ke kamp orang-orang yang bermaksiat, orang-orang yang tidak se-fikrah dengannya, orang-orang yang semula ia hindari. Ia harus mulai membenturkan ideologinya dengan ideologi selain Islam sehingga di sinilah seorang muslim, baru akan merasakan kebenaran hakiki Al Islam. “Sesungguhnya yang haq itu jelas, yang haq batil itu jelas dan ketahuilah yang batil pasti hancur dan yang haq pasti menang.”

Orang yang sudah imun, insya Allah tidak akan terkontaminasi dengan segala ideologi selain Islam. Baik itu komunisme, kapitalisme, hedonisme, sosialisme, liberalisme dan isme-isme lainnya, bahkan dengan ajaran agama para missionaris sekalipun. Allah SWT bersabda, “Dan kami teguhkan perkataan hamba-hamba kami di dunia dan di akhirat. “



Zona Nyaman yang Melalaikan

Dikaitkan dengan para aktivis da’wah yang insya Allah telah menyadari bahwa tak selamanya ujian dari Allah itu adalah dalam bentuk kesusahan dan celaan – karena boleh jadi ujian itu adalah dalam bentuk kenikmatan dan pujian-, maka hendaknya kita mewaspadai “zona nyaman” ini.

Zona nyaman yang dimaksud di sini adalah kondisi cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang telah dicapai sehingga melalaikan ekspansi da’wah. Padahal seorang du’at tak seharusnya memiliki sifat cepat puas. Allah SWT berfirman, “Apabila kamu telah selesai dari satu pekerjaan maka lanjutkan pekerjaan lainnya.”

Sang aktivis dapat dikategorikan berada dalam zona nyaman, bila:

1. Disibukkannya aktivis pada masalah-masalah sepele internal organisasi – yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan- sampai-sampai mengabaikan masalah eksternal yang jauh lebih urgen.

2. Banyak menghabiskan waktu dengan bercanda dan nrgobrol-ngobrol bersama sesama aktivis sehingga kurang introspeksi diri. Jika hal ini yang terjadi, maka sesungguhnya pada saat itulah kita berada dalam keadaan stagnan, tak bergerak.

3. Para aktivis sibuk sendiri dengan agenda kegiatan-kegiatan Islam, padahal orang-orang di luar aktivis sama sekali tak tersentuh, tidak ngeh dan yang lebih parah, tak tahu ada organisasi Islam di kampus atau lingkungan mereka.

4. Para qiyadah (pemimpin) struktural organisasi Islam, sibuk sendiri dengan agendanya. Ia mengetahui bahwa dirinya adalah qiyadah bagi para jundi, namun jundi-jundi itu sendiri tidak menyadari bahwa Anda adalah pimpinannya, sehingga tanpa sadar, siapakah pengikut-pengikutnya?

5. Merasa cukup dengan kondisi organisasi Islam yang dirasa telah banyak pengikutnya. Padahal bagi seorang muslim tak ada kata berhenti berjuang, “Hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah.” Terlebih, tak selayaknya kita bangga dengan jumlah, “Dan ingatlah ketika kamu menjadi congkak… “

6. Puas dengan hanya berkutat di lingkungan sesama aktivis saja akibat terlena dengan aneka pujian dan kekaguman para pengikut kepada dirinya.

Alaa kulli hal… Maka kita sebaiknya merubah sudut pandang, terjun ke lapangan dan menjadikan yang batil itu sebagai agenda bersama untuk dihadapi. Ini bukanlah hanya tugas aktivis yang diterjunkan di siyasi saja, yang notabene memiliki misi “merubah neraka menjadi surga”, tetapi juga tugas aktivis yang eksis di organisasi Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bersabar dengan gangguan manusia maka itu lebih baik. “



Zona Pergerakan

Menjadi “imun” tentu tak mudah, perlu mujahadah dan pembinaan yang terus menerus sebagai bekal terjun ke medan “pertempuran”. Dan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa seorang muslim janganlah selamanya di dalam “border”, ia harus keluar dan berkiprah dengan telah imun akidah, tsaqafah dan akhlaknya.

Kalkulasi, hitung-hitungan jumlah kader untuk tidak menjadikannya management by feeling. Semisal, total jumlah mahasiswa di fakultas sebuah universitas yang terdiri dari enam angkatan berjumlah 15.000 orang dan aktivis da’wah di fakultas tersebut sebanyak 150 orang. Para aktivis yang berjumlah 150 orang ini akan merasa banyak dalam lingkungan mereka sendiri, namun mereka lupa melihat keluar bahwa masih ada 14.850 mahasiswa lainnya. Tak pelak, ini berarti para aktivis itu hanyalah 0,01 % dari keseluruhan mahasiswa di fakultas tersebut.

Meski sebaiknya kita memang jangan menjadikan jumlah sebagai patokan keberhasilan atau kegagalan da’wah, namun ini dapat menyadarkan kita bahwa tidak selayaknya kita berada dalam zona nyaman. Dan sekali lagi, hal ini dikarenakan masih ada komunitas lain yang jauh lebih besar dari kita, yang belum tersentuh da’wah. Zona nyaman ini harus diganti dengan zona pergerakan dan menetapkan agenda “turun gunung” untuk merangkul 99,99 % lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bila seseorang mendapat petunjuk hidayah melaluimu maka itu lebih baik dari dunia dan seisinya.”


Penutup
Seringnya para aktivis menghabiskan waktu bersama, sepintas memang terlihat baik, namun bila hanya diisi dengan mengobrol dan bercanda tanpa adanya agenda da’wah yang didiskusikan atau hal yang bermanfaat lainnya dan merasa cukup dengan kondisi da’wah yang ada, maka sesungguhnya aktivitas sering berkumpul itu, bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Hapuslah zona nyaman, lihatlah dunia luar, buka border dan bergeraklah kita untuk memperlebar sayap da’wah. Insya Allah “imun” itu bukanlah karena kekuatan dan kehebatan kita pribadi, namun karena pertolongan dari Allah akan karunia ilmu dan hidayah keyakinan yang menghujam di lubuk hati bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, yang sempurna dan diridhai-Nya.

Cahaya ibu

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 13 Jan 2012 | 1/13/2012

Ku temukan secercah cahaya di pangkuan mu bu,
Andai ku bisa putar kembali waktu ku ke masa kecil,
aku takkan pernah membuatmu terbangun pada malam hari karena tangisan ku.
Tapi, tak pernah kau tunjukkan wajah lelah karena rengekanku, kau malah tersenyum dan berkata,” wuah anak ibu sudah bangun!”. Senyuman yang indah.
Aku pun takkan membasahi tubuhmu dengan air kencingku yang bau.
Tapi, tak pernah kau tunjukkan wajah kesal karena ulahku itu, kau malah tersenyum dan berkata,” wuah anak ibu pipis, ibu ganti popoknya yach!”. Senyuman yang indah.
Aku pun takkan merengek pada saat aku lapar dan haus.
Tapi,tak pernah kau menutup telingamu karena tangisanku yang mengganggu aktivitasmu, kau malah tersenyum dan berkata,” wuah anak ibu lapar yach, sebentar yuach ibu ambilkan makanan untuk mu dan ibu akan menyuapimu, tunggu ibu yach.” Senyuman yang lagi-lagi sangat indah.
Bu cukupkan ku bisa mebalas apa yang telah kau berikan selama ini.
Kini aku tlah beranjak dewasa, aku mulai mencari jati diriku seutuhnya. Setiap aku pulang terlambat kau sangat mencemaskanku, karena aku tak mengabarimu sebelumnya. Kau begitu marah karena khawatir akan diriku. Maafkan aku bu.
Saat kau sedang di rujung masalah, sedikit demi sedikit kau menceritakannya padaku, maaf bu aku hanya bisa menjadi pendengar setiamu saja, sebagai seorang anak aku belum terbiasa menghadapi masalah orang dewasa sehingga aku belum bisa memberikan solusi padamu. Tapi, dengan semangatnya kau mencari solusi itu, karena aku tahu saat kau mencurahkan isi hatimu, itupun sudah menjadi solusi karena hatimu sedikit demi sedikit menjadi tenang.
Terimakasih bu, atas apa yang sudah kau perjuangkan untukku, kau bekerja membantu ayah membiayai hidup keluarga, tak pernah kau tunjukkah wajah lelah mu, hanya semangat yang kuat yang aku lihat darimu.
Kau begitu berharap memiliki anak-anak yang sukses. Yang menjadi suatu kebanggaan. Kau pun membutuhkan anak-anak yang sholehah yang berbakti kepada orang tuanya dan tak pernah mengecewakan orang tuanya.
Terimakasih bu, atas perjuangan mu selama ini. Dini hari kau sudah terbangun, menanak nasi, lalu kau segera mencuci piring yang kotor. Selepas itu kau memasukkan baju-baju kotorku kedalam mesin cuci. Pekerjaan di pagi hari selalu terlihat rapih dikerjakan olehmu. Pukul 07.30 kau bersiap-siap berpakaian rapih hendak pergi ke kantormu. Pergi ke sekolah menengah pertama dimana aku bersekolah dulu, kau bekerja disana sebagai kepala tata usaha. Kau begitu bersahaja, banyak kawan yang kau dapat disana, tak hanya kawan bahkan saudara kau pun dapat. Selepas bekerja kau pulang dengan segera. Selepas pulang kalu langsung membantu ayah di toko. Apakah kau tak pernah merasa lelah? Sempat suatu ketika kau terbaring lemas, kata dokter ibu terlalu memporsir tubuhnya karena banyak bekerja. Tapi, ibusuka bandel walau tubuhnya lemas dia masih saja mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, dengan kesungguhan hati karena ibu tak ingin terus-terusan sakit akhirnya ibu sembuh dan beraktivitas seperti biasanya. Sangat risih mendengarnya pada saat penyakit asmanya kambuh. Membuat keluarga ku cemas, tapi ibu begitu bersemangat maka dari itu ibu selalu cepat sembuh.
Terimakasih ibu.
Maafkan aku, aku belum sepuhnya menjadi anak yang kau inginkan. Aku tahu aku bukanlah anak yang baik seutuhnya, tapi aku akan berusaha menjadi anak yang benar-benar seutuhnya. Suatu hari aku akan membuatmu bahagia, walau aku tak bisa memberikan apa-apa seperti apa yang kau berikan padaku. Tapi, yakinlah dan doakanlah aku bu, aku akan berjuang sungguh-sungguh agar aku dapat membahagaikanmu.
Maafkan aku bu, mungkin sekarang aku terlalu aktif di luar, sampai-sampai pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan terbengkalai, maafkan anakmu yang susah diatur ini. Maafkan anakmu yang membandel ini. Tapi, percayalah bu, aku akan menjaga nama baik keluarga, aku akan membahagiakanmu dengan semua kemampuan yang aku miliki.
Tiada kata terucap seindah kata kasih sayang kau curahkan untuk anak-anakmu bu, sebuah lagu yang akan aku lantunkan untuk mu sebagai rasa terimakasih atas kasih sayangmu.
Surga di Telapak Kakimu
(Gita G.)
Ku nyanyikan sebuah lagu untukmu ibu
Sebagai wujud terimakasih ku kepadamu
Tanpa lelah kau berjuang membesarkanku
Berikan yang terbaik untukku.
Izinkanlah tanganmu ku cium
Dan ku bersujud dipangkuanmu
Temukan kedamaian di hangat pelukmu
Didalam hati ku yakin serta percaya
Ada kekuatan doa yang engkau berikan
Lewat Tuhan membuat semangat bila diri ini rapuh
Dan tiada berdaya
Ada surga ditelapak kakimu
Betapa mulianya dirimu
Buka pintu maafmu saat ku lukai hatimu
Ada surga ditelapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Hanya lewat restumu terbuka pintu ke surga
Kasih sayangmu begitu tulus kau cahaya dihidupku
Tiada seorangpun yang dapat menggantimu.
                Kasih ibu sepanjang masa...
Doa untukmu dari ku
Allohummagfirli dunubi waliwalidayya warhamhuma kama robbbayani shoghiro. Ya Allah ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.
Ya Rabb lewat tangannya kau berikan lambaian yang lembut, lewat tutur katanya kau berikan kata yang tulus, lewat kasih sayannya kau berikan cinta kasihMu. Sungguh penciptaanMu sangat luar biasa, kau menciptakan malaikat untukku didunia. Yang rela berkorbanagar anak-anaknya bersahaja. Ya rabb berikanlah kasih sayang padanya seperti beliau memberikan kasih sayangnya padaku, muliakanlah beliau di dunia maupun di akhirat.
Ya rabb tiada kata seindah ayat-ayat cintamu, yang selalu terlukis di raut wajah seorang ibu yang tak pernah lelah menyayangi anak-anaknya. Yag tak pernah lelah berdoa untuk keselamatan keluarganya. Yang tak pernah lelah bekerja utnuk kesejahteraan keluarganya, rahmatilah beliau ya Rabb. Berikan cinta kasihMu padanya kepada ia yang lembut, tegar dan selalu tersenyum.
Ya rabb lindungilah kami.
Ibu kau cahaya dihidupku, kau berikan cinta setulus jiwamu. Yang menjaga aku yang mencintai ku, yang menyayangiku setulus jiwamu.

 
By. Engkan Wikanti S

Muslimah FSLDK Bagi-bagi Jilbab Syar'i

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 10 Sep 2011 | 9/10/2011

Peringatan International Hijab Solidarity Day (IHSD) atau sebagai bentuk sosialisasi menggunakan jilbab bagi kaum muslimah diperingati sekitar 200 mahasiswa dari Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Sumbar dengan melakukan aksi damai longmarch sembari memberikan jilbab syar’i kepada masyarakat sebagai bentuk sosialisasi penggunaan jilbab sesuai dengan syariah agama.

Peringatan IHSD dilatarbelakangi oleh adanya keputusan pemerintah London yang melarang mahasiswa untuk memakai symbol-simbol keagamaan sehingga banyak warga muslim yang memprotes keputusan tersebut. Pada 04 September 2004 diadakan konferensi London yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof Tariq R dan 300 delegasi dari 1-2 organisasi Inggris Internasional yang menghasilkan keputusan yakni menetapkan dukungan terhadap penggunaan jilbab, menetapkan tanggal 04 September sebagai hari IHSD, serta merencana aksi untuk tetap membela hak muslimah untuk mempertahankan busana takwa.

Sedangkan Hijab atau Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi. Hijab adalah kesucian, hijab adalah taqwa, hijab adalah iman, hijab adalah rasa malu sehingga tidak ada alasan dari seorang muslimah untuk tidak menjaga hijabnya

Nikmatul Husna, koordinator aksi mengatakan bahwa aksi damai ini merupakan aksi menyerukan kepada kaum muslimah di Kota Padang dan Sumbar untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat yang menjadi karakter diri baik di lingkungan sekolah, pemerintahan dan masyarakat karena menjadi karakter diri bagi Bundo Kanduang di Ranah Minang dan pastinya perintah dari Allah SWT.

Dalam aksi ini pun, bertujuan untuk menjelaskan pemakaian jilbab yang benar untuk menutup aurat dan bukan yang tipis serta membentuk tubuh wanita yang saat ini sudah salah dikenakan oleh kaum wanita, menjunjung tinggi hak muslimah untuk mengenakan jilbab dan mengajak seluruh muslimah di Kota Padang dan se-Sumbar untuk mengenakan jilbab sebagai bentuk kekuatan iman, terang Husna.

Kami pun menolak semua bentuk penolakan dan diskriminasi terhadap muslimah di seluruh dunia terhadap privasi mereka dalam mengenakan pakaian menutup aurat dan berjilbab karena dengan menutup aurat dan berjilbab adalah sebuah pakaian yang melindungi diri dan menunjunjung tinggi harga diri, tegasnya.

Menurut Husna, muslimah sejati merupakan seorang wanita yang mengenakan jilbab syar’i dan dengan berawal dari mengenakan jilbab kita akan memperbaiki nurani bangsa ini dan kami pun menyerukan kepada kaum wanita untuk menjadi bagian dalam melahirkan dan mendidik generasi muda harapan bangsa dan agama. (Sumber : korandigital.com )

Mahasiswa Non Muslim Di AS Ikut Memakai Jilbab

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 4 Sep 2011 | 9/04/2011

Memakai jilbab bukan sekadar untuk menutup aurat atau menyembunyikan aib yang ada pada dirinya, tapi merupakan kebanggaan dan penampilan yang penuh martabat," demikian ungkapan salah seorang mahasiswi non-muslim di Amerika setelah mengikuti acara memakai jilbab sehari penuh yang diadakan oleh mahasiswi muslimah di University of North Carolina, sebagaimana yang diberitakan oleh Islam0nline, Senin (23/2).

Menurut harian Teknikan Online, Ahad (22/2), sekelompok mahasiswi muslimah di University of North Carolina mengajak rekan-rekannya, baik dari kalangan mahasiswi muslimah yang tidak berjilbab ataupun mahasiswi non-muslim untuk ikut berpartisipasi dalam acara memakai jilbab sehari penuh dengan tujuan untuk memperkenalkan pakaian kaum muslimah.

Acara itu diikuti oleh 28 mahasiswi non-muslim dan puluhan mahasiswi muslimah lainnya yang tak berjilbab. Selain memakai jilbab, mereka juga harus mengikuti kebiasaan hidup kaum muslimah. Mereka dilarang meminum minuman berakohol, makan daging babi, dan kebiasaan haram lainnya.

Menurut pencetus ide acara ini, Sarah Yasin, sebenarnya ide untuk mengadakan acara semacam ini sudah ada sejak akhir musim panas lalu. Ia ingin mengetahui bagaimana perasaan orang lain memakai jilbab, mengetahui persepsi masyarakat mengenai jilbab dan mengetahui bagaimana reaksi orang lain melihat orang berjilbab. Sarah ingin bagi-bagi pengalamannya kepada kaum hawa lainnya.

Pada akhir acara, Sarah ingin mengetahui kesan dari para mahasiswi non-muslim yang mengikuti acara itu. Keinginannya pun akhirnya terjawab, mayoritas mahasiswi non-muslim merasa tertarik dengan acara semacam itu. Pasalnya, sebagian mereka ingin acara memakai baju muslimah ini diadakan tidak hanya sehari, tapi lebih lama lagi.

Salah seorang mahasiswi non-muslim, Megan Itski berkomentar, "Saya ingin sekali mengikuti acara ini, ide mengadakan acara seperti ini sangat baik dan menarik. Selama sehari penuh saya merasakan sesuatu yang tidak biasa saya lakukan."

"Dengan memakai jilbab, saya merasa dihormati oleh orang lain," tutur Frankly Sawrtne yang juga seorang mahasiswi non-muslim yang ikut dalam acara itu.

Di akhir acara, mereka mengambil kesimpulan bahwa memakai jilbab bukan sekeaar untuk menutupi aurat dari orang lain dan bukan untuk menutupi aib yang dimilikinya, tapi lebih dari itu, jilbab merupakan suatu kebanggaan dan kemuliaan.

Sementara itu, Aisyah--yang merupakan salah seorang peserta dari kaum muslimah --mengatakan, "Sesungguhnya mereka ingin mengetahui bagaimana kepribadian dan akhalak orang-orang yang memakai jilbab."

"Pada awalnya saya minder dan malu memakai jilbab, tapi saya mendapat dukungan yang kuat dari teman-temanku yang terus memberi semangat untuk memakai jilbab," ungkap Aisyah menceritakan awal mula ia memakai jilbab.

Seorang mahasiswi muslimah lainnya mengatakan, "Saya bersyukur kampus saya tidak menentang acara itu, bahkan justru mendukungnya."

"Saya merasa bagian dari masyarakat muslimah berjilbab, dan pemakaian jilbab tidak menghalangiku untuk melakukan rutinitas yang biasa saya lakukan, termasuk olahraga," tutur Sarah yang juga mahasiswi di Universitas itu

Di Bawah Kibaran Jilbab Khatulistiwa



Notes ini saya buat untuk mengenang bagaimana jilbab diperjuangkan di bumi pertiwi ini dan bagaimana kedudukan kita sebagai seorang muslimah dengan jilbabnya..

Sebelum lebih jauh, mari kita renungi lagi perintah mengenakan hijab bagi seorang muslimah:

"Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin lainnya, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. Al-Ahzab(33):59)



Saudariku..

Perintah mengenakan jilbab merupakan perintah Allah secara langsung kepada semua muslimah. Namun, walaupun hal demikian adalah perintah Tuhan secara langsung yang bertujuan untuk kebaikan dan kehormatan diri seorang muslimah, kebebasan untuk melaksanakan perintah tersebut membutuhkan perjuangan yang ekstra. Kebebasan mengenakan Pakaian takwa ini banyak dihalang-halangi oleh skandal-skandal tertentu yang tidak mengerti islam secara kaffah (menyeluruh).

Tahukah kalian bahwa berkibarnya jilbab di tanah air ini sebelumnya memerlukan pengorbanan.????

Pengorbanan yang mungkin mempertaruhkan nyawa dan harga diri demi sebuah hijab sebagai bentuk kecintaan kepada Allah semata..

Sungguh, kebebasan menutup aurat (jilbab) yang kita rasakan sekarang adalah bentuk upaya mereka yang memperjuangkan hak-hak muslimah di tanah air..



Berikut ini awal mula jilbab berkibar di Indonesia:

Berkibarnya jilbab di bumi pertiwi telah melewati sejarah luka yang panjang dan lama. Sekitar tahun 1980-an, ribuan mahasiswi dan pelajar berjilbab membanjiri jalanan di berbagai kota besar. Mereka memprotes keputusan yang melarang jilbab di sekolah.

            Revolusi jilbab di Indonesia bermula tahun 1979. Siswi-siswi berkerudung di SPG Negeri Bandung hendak dipisahkan pada local khusus. Mereka langung memberontak atas perlakuan diskriminasi terhadap jilbabnya. Ketua MUI Jawa Barat turun tangan hingga pemisahan itu berhasil digagalkan. Ini adalah kasus awal dari rentetan panjang sejarah jilbab di bumi persada.

            Selanjutnya tangal 17 Maret 1982 keluar SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah nasional oleh Dirgen Pendidikan Dasar dan Menengah , Prof. Darji Darmodiharjo, S. H. Pelaksanaan terhadap surat keputusan itu malah berujung pada larangan terhadap jilbab. Maka meledaklah demo barisan pembela jilbab di seantero Indonesia.

            Ketika itu tengah gencar-genvarnya penggusuran jilbaber dari bangku pelajaran. Para muslimah terpaksa hengkang dari studi demi konsisten menjalankan syari’at. Mereka yang diusir dari sekolah, bahkan menggelar perkara ini sampai ke pengadilan.

            Belum reda perjuangan jilbab di sekolah-sekolah, muncul fitnah baru di penhujung 1989. Jilbab penebar racun!? Ny. Fadillah berbelanja di Pasar Rawu, diserang tiba-tiba, diteriaki dan dituduh penebar racun. Orang-orang yang tersulut emosi langsung merajam wanita itu hingga hampir meninggal dunia. Para muslimah menjadi takut keluar rumah. Hingga kembali digelar tabligh akbar autan pendukung jilbab.

            Korban demi korban terus berjatuhan tetapi semangat berbusana takwa mekin berkobar hebat. Akhirnya, kebenaran tidak bisa lagi dihempang, aturan Tuhanlah yang maha benar. Unjuk rasa, protes, demonstrasi dan dialog intensif serta jalur hukum sampailah di saat yang berbahagia. Seiring keluarnya SK Dirjen Dikdarmen No. 100/C/Kep/D/1991 jilbab lengkap dengan busana menutup auratnya dinyatakan ‘halal’ masuk sekolah. Allahuakbar!!??!!

Sumber: Hemdi, Yoli. 2005. Ukhtiy… Hatimu di Jendela Dunia (Sebuah Torehan Wajah Perempuan dan Peristiwa). Zikrul Media Intelektual: Jakarta Timur



Saudariku…

Buah perjuangan merekalah yang kita nikmati sekarang, dimana-mana disaksikan lautan jilbab. Busana yang memancarkan pesona ‘dalam’ yang kuat. Pakaian takwa yang berfungsi sebagai benteng kehormatan diri.



Saudariku …

Saya sangat yakin, bahwa kita semua sebagai seorang muslimah, diminta mencopot jilbab bagaikan memaksa telanjang di depan umum. Jilbab bukan sekedar urusan busana, tetapi melambangkan keislaman seorang perempuan. Sekaligus sebagai simbol kesalehan dan ketaatan kita kepada Allah.



Saudariku…

Pakaian takwa bukan hanya sekedar pembungkus tubuh. Busana adalah ekspresi jiwa terhadap identitas pemakainya. Ia merupakan kemasan apik dari pribadi luhur pemakainya. Sosok muslimah berpakaian takwa bagaikan oase penyejuk di tengah panasnya bisnis obral aurat. Jilbab ini telah menuntun kita tidak menjadi golongan dari mereka. Peliharalah hijab kita ini hingga kita bertemu Allah. Hijab yang akan membuat kita berucap bangga ketika bertemu Allah “semua yang kulakukan di dunia ini adalah sebagai pertanda rasa cintaku yang besar kepada-Mu yaa Rabb”.



Saudariku …

Jangan dianggap jilbab malah membuat kita terkesan tidak menarik. Muslimah berjilbab memberikan kesan khusus terhadap lawan jenis. Pribadi yang menimbulkan citra tentang sesuatu yang berharga, makin banyak yang tertutupi makin menariklah ia. Ibarat mutiara yang mempunyai banyak sudut, dimana tiap-tiapnya memancarkan pesona yang berbeda. Keanggunan yang membuat hati tertawan, sehingga kegelapan berubah kegemilangan. Wanita salehah semakin lama kian bertambah keindahan dari perhiasan budi pekertinya. Sementara muslimah sejati cemerlang dengan inner beauty dari hijabnya, cantik hingga ke hatinya.



Yakinlah saudariku..

Keribetan kita di dunia akan hijab ini akan dibalas kemudahan oleh Allah di akhirat..

Ingatlah sebuah hadits yang memposisikan keutuhan suatu Negara berdasarkan wanita di dalamnya:

“Wanita adalah tiang Negara, jika rusak, maka Negara juga akan rusak, dan jika baik, Negara juga kan menjadi baik”.

Betapa besarnya peran kita sebagai seorang muslimah. Peran yang bisa menghantarkan keutuhan suatu Negara ataupun keruntuhan suatu Negara. Jagalah selalu hijab ini karena dengan demikian kita tidak akan termasuk wanita yang menghancurkan Negara. (Amiiinn)



Satu lagi hiasan kalimat yang sangat saya senangi: “Banyak pria hebat menjadikan wanita sebagai sumber inspirasi dan motivasi yang tertinggi. Selalu ada perempuan kuat dibalik lelaki hebat. Entah itu berperan sebagai ibu, isteri, kekasih, atau sahabat. Karena itu, ia dianggap sebagai tonggak –tonggak penyangga sebuah peradaban”.



Akhir kata : “Jagalah selalu jilbabmu Ukhti, karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk di mata.”

Teruntuk semua muslimah kebanggaan Islam dan penggerak peradaban ^_^





Dan "Mutiara" itu tersembunyi cantik jauh dari sentuhan manusia...

Umpamanya baju yang dipajang di toko, pastilah baju yang terbungkus dan tersimpan rapi yang belum pernah tersentuh yang menjadi pilihan...Barokallah ukhty....

Wanita Si Tukang Keluh

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 4 Agu 2011 | 8/04/2011

Saya hanya ingin menangis kali ini. Sekali lagi. Yang entah tangisan ke berapa. Dan entah kapan akan berakhirnya. Tangisan atas nama kekecewaan yang seharusnya tak ada dalam kamus manusia yang mukhlisin, yang menyerahkan semua urusannya hanya kepada-Nya. Tapi bukankah wanita ini baru belajar untuk menggapainya? Tertatih, berjalan pelan, meraup ilmu, dan mencoba membingkainya dalam laku akhlak yang bersumber pada aturan-Nya berbekal ittiba’ pada Rasul-Nya, Sang Pemilik kesempurnaan akhlaq yang mulia.

Seharusnya airmata ini memang tak membanjir sekarang. Hanya karena komitmen dari orang-orang yang bergelar kader mulai mengalami kefuturan. Hanya karena mereka yang di awal seia sekata untuk berjuang dengan segenap potensi yang mereka miliki untuk membingkai hari-hari indah dalam dunia birokrasi, mengalami kejenuhan. Tergerus dengan kesibukan kerja dunia para birokrat yang menuntut profesionalisme di segala lininya, hingga tak ada waktu yang tersisa untuk pekerjaan utama: ‘dakwah untuk meninggikan kalimat-Nya’.

Apakah mereka salah? Tentu tidak. Lalu siapakah yang salah? Mungkin saya yang salah karena tak pandai menjaga ukhuwah dan mengobarkan semangat mereka agar tetap menyala. Ya mungkin sayalah yang salah, yang kadang mengendur rengkuhannya hingga mereka mulai tidak mendapatkan kehangatan dalam pekerjaan berat yang harus mereka tanggung selain pekerjaan rutin kantor yang seakan tak ada hentinya.

Tapi Ya Rabb, bukankah hamba juga sama seperti mereka? Ada kalanya hamba futur dan ingin mendapatkan rengkuhan dari mereka. Menyemangati hamba. Mengobarkan kembali semangat hamba. Saat semangat hamba sedang tinggi mungkin hamba mampu mengemban amanah itu sendiri, memberikan ruang bagi mereka untuk fokus terhadap pekerjaan rutinnya. Karena hamba sadar, seorang muslim adalah seorang yang memiliki etos kerja yang tinggi, profesional, dan dapat dipercaya dalam semua amanah yang diembankan kepadanya. Dan termasuk di dalamnya amanah pekerjaan kantor mereka. Tapi saat hamba sedang merasa keletihan, hamba ingin ada yang mengambil beban itu dari pundak hamba. Membawanya bersama-sama. Karena bukankah ini hakikat kerja dalam jamaah? Saling berbagi beban. Berbagi senyum. Berbagi air mata. Saling menguatkan, karena dua kaki saja tak kan cukup kokoh untuk menopangnya.

Ya Rahman, sungguh rasa sakit yang hamba rasai dalam hati ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan yang Kau ujikan pada Rasul-Mu. Sungguh, hamba belum beroleh cacian, makian, dan siksaan seperti manusia-manusia mulia itu dalam mengemban Risalah-Mu. Namun ternyata airmata ini tak kunjung juga mau menghentikan alirnya. Bukankah seharusnya tidak ada kesedihan dalam perjuangan yang bermuara pada-Mu? Bukankah semestinya semua lelah yang hamba rasai akan berujung pada nikmat-Nya bermunajat kepada-Mu? Hamba tau hamba yang salah Ya Rabbiy.. Hati ini terlalu sempit, sehingga riak kecil dalam kerja dakwah saja mampu menderaskan airmata. Diri ini yang terlalu rapuh, sehingga kadang tak sabar dalam kerja lintas generasi yang penuh peluh. Mungkin niat ini yang tak lagi lurus. Mungkin keikhlasan ini telah tercemari dengan segala polusi dari maksiat diri. Astaghfirullah hal ‘adzim… Ampuni diri ini Ya Rabbiy..

Ya Mujib, kuatkan kaki hamba untuk menapaki jalan dakwah ini. Tetap di sana, walau dalam keletihan yang bagaimanapun juga. Karena hamba yakin akan jual beli ini. Karena hamba telah memutus dan hamba harus menerima segala konsekuensi. Menjadi wanita yang menceburkan diri dalam kawah panas dakwah birokrasi. Yang ternyata tak cukup dengan sekedar waktu dan tenaga sisa. Tetap menjadi prioritas utama walaupun diselipkan dalam beban tugas menjadi Abdi Negara. Yang semakin ke sini hamba rasai semakin memberati punggung hamba. Ternyata tidak mudah mensikronkan menjadi pegawai yang profesional sekaligus pendakwah di hitam putih abu-abunya dunia birokrasi negeri ini.

Kadang kala terpikir untuk melepasnya saja. Sebagaimana yang lainnya. Di kantor ya hanya sekedar untuk bekerja. Karena untuk mengerjakan pekerjaan profesional saja kadang tak cukup waktu. Apalagi ditambah berpikir untuk dakwah dan sebagainya. Mau meminjam waktu dan tenaga siapa? Sebenarnya hamba ingin berkata, hamba tak sanggup Ya Rabb… Hamba tak sanggup… Namun hamba malu… Hamba malu kepada-Mu, yang telah memberikan hamba segala potensi yang seharusnya bisa hamba optimalisasi. Hamba juga malu kepada para muslimah mujahidah pengukir tinta emas sejarah.

Sumayyah mujahidah pertama yang menggadai jiwa demi imannya. Khadijah, pembenar kerasulan Muhammad saw disaat semua orang mendustakan dan telah meridhakan semua hartanya demi tegaknya dakwah islam. ‘Aisyah, si cerdas yang bagai telaga bagi para musafir ilmu yang dahaga. Nasibah dan Ummu Ammarah yang rela berlelah dalam perjalanan panjang mengikuti baiat aqabah. Asma’, Nusaibah, Ummu Sulaim dan puluhan shahabiyah lain yang telah menggadai sempurna seluruh potensi yang ada pada dirinya demi bersinarnya cahaya Islam di penjuru dunia. Dan mereka melakukannya jelas bukan untuk menyimpang dari fitrah kewanitaannya. Namun, itulah bukti cinta yang bergelora dalam hati mereka. Itulah bukti syukur atas segala karunia yang telah Allah berikan kepada mereka. Itulah bekal yang akan mereka bawa untuk menghadap Rabb-Nya.

Lalu apakah wanita ini akan menyerah kalah begitu saja? Hanya karena satu dua hal kecil yang menelikung langkah dakwahnya. Yang menjatuhkannya. Yang kadang membuatnya tergugu dalam shalat malamnya. Tapi bukankah Kau masih mengaruniai hamba kaki yang utuh Ya Rahman? Yang seberapa kalipun hamba jatuh, hamba masih bisa berdiri lagi. Berdiri dan terus berdiri… Sampai nanti hamba tak mampu lagi…
.....

Kisah Seorang Akhwat "Pemulung"

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 3 Agu 2011 | 8/03/2011

Kisah seorang akhwat yang berjuang hidup dari tumpukan sampah. Kisah tumpukan sampah yang membawanya duduk di bangku kuliah. Kisah bagi kita untuk belajar bersyukur!
Namanya Ming Ming. Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.

Saat kelas usai, dia pergi ke perpus. “Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)

Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.

Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.

Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine it ?)

Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.

Ini adalah cerita nyata yang yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore kemarin (26/5/2008). Di Trans TV juga disiarkan hari selasa kemarin, di acara KEJAMNYA DUNIA Sungguh episode yang membuat bulu kudu kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.

--------

Ming Ming Sari Nuryanti (Mahasiswi Universitas Pamulang) Menjadi Pemulung untuk membiayai kuliah dan melanjutkan hidupnya (REALITA edisi 17, 28 April – 11 Mei 2008)
Ming Ming Sari Nuryanti, Pangilannya Muna. Ia lahir di Jakarta, 28 April 1980 sebagai putri pertama dari tujuh bersaudara pasangan Syaepudin (45) dan pujiyati (42). Syaepudin, ayahnya, adalah seorang karyawan di sebuah tempat hiburan di daerah ancol, Jakarta Utara. Setiap hari ia mengumpulkan bola bowling . Sementara ibunya Pujiyati adalah seorang ibu rumah tangga sederhana. Lisa, adiknya yang pertama, duduk dibangku kelas 3 SMU Negeri I Rumpin. Melati, adiknya yang kedua, duduk dibangku kelas 2 di SMU yang sama. Kenny, adiknya yang ketiga, duduk dibangku kelas 6 SD Sukajaya. Sementara tiga adiknya yang lain juga masih sekolah disekolah yang sama. Romadon di kelas 5, Rohani di kelas 4 dan Mia di kelas 1.
Pada tahun 1994, dengan ekonomi yang pas-pasan Muna bersama keluarganya mengotrak rumah sangat sederhana di daerah Kosambi, Cengkareng. Orang tua muna menggeluti usaha rempeyek untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang memang hasilnya tidak menjanjikan. Disela kehidupan yang cukup prihatin, Muna, yang pada waktu itu masih berusia 4 tahun menunjukan potensi dirinya yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Dalam usia yang sedini ini, ia memaksa orang tuanya untuk memohon kepada kepala sekolah SDN 02 Kosambi agar menerimanya sebagai murid kelas 1. Hasilnya menggembirakan, ia tidak mengalami masalah dan bahkan dapat naik ke kelas 2 dengan hasil yang memuaskan.

keluarga ming-ming Saat Muna beranjak kelas dua, yaitu tahun 1996 Muna bersama keluarga hijrah ke daerah Bogor, Rumpin. keluarga mereka membuka usaha warung makanan dengan modal yang pas-pasan. Setahun berjalan, usaha itu bangkrut. Hingga untuk bisa bertahan hidup mereka hanya mengkonsumsi bubur atau singkong. Hal itu berlanjut hingga lima tahun.
Suatu hari, ada seorang teman ayah Muna yang memberitahu bahwa gelas dan botol bekas air mineral dapat dijadikan uang . Saat itu juga serentak seluruh keluarga mengumpulkan gelas dan botol bekas air mineral. Hampir setiap hari keluarga mereka berbondong-bondong keluar sambil membawa karung dan terkadang pulang hingga jam tiga pagi. Gelas bekas yang dikumpulkannya ini dihargai delapan ribu rupiah untuk setiap kilonya. Dalam sehari Muna dapat mengumpulkan sebanyak satu karung gelas plastik bekas atau seberat satu kilo gram.
Dari usaha yang baru ini membawa sedikit angin segar bagi keluarga Muna, terlebih bagi dirinya sendiri yang memang sangat bersemangat untuk menempuh pendidikan setinggi tingginya. Dalam keadaan yang sulit sekalipun prestasi belajarnya cukup menggembirakan. Semenjak SD hingga SMU Muna selalu mendapat peringkat tiga besar. Sebelum meninggalkan bangku SMU ia pernah mendapat juara 2 lomba puisi dan ia pun masuk kedalam sepuluh besar lomba membawakan berita pada peringatan hari bahasa pada waktu itu. Pada bangku kuliah pun ia masuk dalam peringkat sepuluh besar pada universitas Pamulang jurusan akuntansi. Potensi inilah yang membakar semangatnya dan memperoleh dukungan keluarga untuk terus belajar.
Tahun ajaran 2007-2008 masih dalam keadaan cukup prihatin Muna memberanikan diri mencicipi bangku kuliah. Tekadnya bulat untuk memilih jurusan akuntansi yang dalam benaknya dapat memudahkan mencapai cita-citanya untuk dapat bekerja pada Bank Indonesia. Dengan biaya kuliah Rp. 900.000 per semester dapat dicicilnya setiap bulan sebesar Rp. 150.000. Jadi, apabila ia ingin kuliah maka ia pun harus bekerja keras siang malam.

Semangat dalam belajar dan bersabar dalam meniti jalan kehidupannya membuat muna dapat dikatakan memiliki suatu yang lebih diantara kawan sebayanya. Meskipun terkadang hanya makan sekali dalam sehari tidak membuatnya kehilangan energi dalam menuntut ilmu. Muna yang memang dikenal juga anak yang pandai bergaul dan periang ini bergabung bersama kawan-kawannya di UKM MUSLIM. . Keprihatinan yang dialami keluarga Muna baru diketahui ketika kawan-kawannya berkunjung ke rumahnya. Semenjak itu, ia semakin mendapat perhatian dari pengurus UKM MUSLIM dan kawan-kawannya dengan memberinya bantuan yang memang jumlahnya belum cukup signifikan.
Ust. Harist, salah seorang Pembina MUSLIM merekomendasikan Muna untuk mendapat bantuan beasiswa melalui DPU DT. Alhamdulillah, setelah mengikuti seleksi akhirnya Muna lolos menjadi anggota program BEA MAHAKARYA DPU DT. Dalam program BEA MAHAKARYA ini selain mendapat bantuan finansial ia juga memperoleh serangkaian pendidikan dan pelatihan yang dapat menjadi bekal bagi dirinya kedepan. Muna terlihat semakin optimis mengejar cita-citanya. Selain itu pula atas usaha dan dukungan kawan-kawannya ia dapat diliput dibeberapa media cetak dan elektronik yang mudah mudahan dapat dijadikan pintu keluar bagi keprihatinan yang ia alami sekeluarga selama ini
.

Kemuslimahan LDK In Action

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 3 Jul 2011 | 7/03/2011

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. 4: 32)

Pengelolaan kemuslimahan ini berangkat dari alasan optimalisasi segment seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Memang dengan begitu, pelaku kemuslimahan dituntut lebih besar lagi untuk menghadapi tantangan dan memenuhi kebutuhan era baru kemuslimahan ini. Maka pelaku kemuslimahan dituntut untuk mengakselerasi pengembangan dirinya. Ia harus siap menjadi konseptor sekaligus eksekutor, mau berpikir keras, belajar dan berbuat, peka terhadap permasalahan dan isu wanita, mau mengerjakan hal-hal kecil hingga besar, keluar dari zona aman, belajar lebih dalam lagi mengenai Islam dan ideologi yang mengancam keislaman muslimah, berani 'muncul ke permukaan', siap ditokohkan dan mampu berdiri sendiri tanpa menjadikan ikhwan sebagai kekuatan strategisnya.

Karena alasan segmentasi ini pula, pelaku kemuslimahan harus benar-benar menjalankan fungsi yang khas, yang tidak dijalankan di lini dakwah kampus yang lain, bahkan syiar sekalipun. Ia harus berhasil menunjukkan, bahwa memang semua yang ia suguhkan tidak bisa difasilitasi oleh lini yang lain.

Sejalan dengan tuntutan ini, maka keluhan-keluhan tentang stereotype akhwat kemuslimahan selama ini selayaknya tidak perlu terdengar lagi. Terlepas dari tingkat representasi pendapat ini, patutlah diambil pelajaran darinya. Kita harus membuka lembaran baru. Cabiklah lembaran yang bertuliskan "akhwat kemuslimahan pendiam, penurut, tidak mandiri dan tidak berani tampil". Cabiklah dengan semangat memperdalam ilmu, memperbaiki diri dan memenuhi tuntutan dakwah. Terlepas dari bagaimana pun karakter dasar setiap kita, pasti Allah tidak akan membebani kita di luar kesanggupan kita. Umat telah menunggu tabir keislaman itu dihempaskan. Maka ini pun menjadi pertaruhan: apakah Islam pantas dipilih dengan perantara kita yang masih saja terus begini ataukah ideologi lain yang dibawa oleh orang-orang yang mereka anggap lebih meyakinkan mereka?

Semangat ini bukanlah semangat untuk show up, tetapi semangat untuk melakukan yang terbaik dalam memenuhi tuntutan dakwah, layaknya semangat untuk mempersiapkan segala kekuatan untuk berperang.

Optimalisasi ini memang penuh dengan tuntutan, kekuatan dan perbaikan keadaan. Namun, ini bukan emansipasi salah kaprah seperti para feminis menyelewengkan perjuangan Kartini. Walaupun kekuatan ikhwan tidak strategis di sini, meskipun akhwat dituntut untuk tampil, menokohkan diri dan mengambil peran-peran publik (di dunia kewanitaan), namun ini bukan tuntutan untuk menandingi ikhwan. Begitu pula keberadaan Ketua Keputrian (Kaput) atau Kadept Kemuslimahan, tidak untuk menyaingi pengaruh dan kepemimpinan ikhwan dalam LDK atau LDF. Kami (akhwat) menyadari bahwa ada hal-hal yang bisa kami ambil pelajaran dari kelebihan kemampuan ikhwan selama ini, yang semestinya bisa dan boleh kami lakukan untuk kepentingan dakwah.     

"Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
 (Surat RA. Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya,  4 Oktober 1902)

Ukhty Aku Rindu Jilbab Panjangmu

Pertama kali aku begitu terkesima dengan teduh dan sahajanya dirimu dalam berpakaian, meski saat itu aku belum begitu paham tentang aturan apa itu jilbab syar’ie..

Begitu damai, tenang, dan merasa nyaman didekatmu, ditambah sunggingan senyum dan salam disaat setiap kali bersua…

Aku juga tak pernah tau sebelumnya mengapa engEngkau kenakan jilbab lebar berkibar, tapi jujur saat itu memandangmu begitu damai, dan hati ini pun terhentak ingin rasanya bisa sepertimu, hmm,..

Meski kudengar tak sedikit orang yang mencibir dengan gaya busanamu yang tak up to date saat itu, …seperti karung beras berjalanlah, seperti kue lemperlah..dan segala gelaran-gelaran buruk lainnya.

Seiring waktu berjalan, dan Engkau tetap istiqomah dalam balutan jilbabmu yang panjang menjuntai, tak sekedar menutup dada bahkan lebih sehingga model bajumupun tak terlihat (tapi memang saat itu model gamis sangat simple)

Alhamdulillah atas kuasa Allah jua, banyak kalangan mulai menggemari trend jilbab itu, dari artis hingga pejabat, model jilbabpun semakin berkembang. Senyum penuh kesyukuran pasti menghampiri seluruh jilbaber sepertimu yang sekian tahun berjibaku memperjuangkan kebebesan berjilbab. Dan kini……..jilbab pun menasional, bahkan aturan sekolah ada yang mewajibkan siswinya wajib mengenakan jilbab dihari tertentu, meski itu sekolah negeri biasa.

Engkau tentu masih ingat…..betapa perjuangan “melegalkan” jilbab kala itu  dipenuhi uraian airmata, kesedihan, intimidasi, “pengucilan” dan berbagai rintangan lainnya. Ada diantara kita yang harus melawan peraturan tidak boleh berjilbab ketika belajar disekolah negeri, dan bahkan ada yang harus pindah sekolah untuk mempertahankan jilbabnya.

Dan masih sangat jelas terngiang pula perjuangan foto berjilbab kala itu mengharuskan engEngkau keluar jam pelajaran untuk di intimidasi pihak sekolah karena bersikukuh mempertahankan jilbab agar tetap bertengger dalam foto ijazahmu. Ya karena EngEngkau yakin itulah izzahmu, perintah Allah yang tak boleh dilanggar karena engEngkau takut akan adzabNya yang pedih. Bukan takut akan cacian manusia, yang didengungkan akan menghalangi aktivitasmu kelak dalam dunia kerja, hhh..

Dan kini waktu berlalu, sudah bukan syaithan namanya jikalau tidak menghalangi langkah manusia dalam kebenaran, tipu dayanya begitu halus, ya kan ukhty..?

Segala macam cara mereka gunakan untuk bisa melucuti pakaian takwa itu, tentu kalian pernah mendengar kisah Adam AS dan Hawa yang terpedaya oleh bujukan iblis sehingga memakan buah terlarang yang pada akhirnya melucuti pakaian dan tampaklah auratnya beginilah dalam Al Quran dikisahkan agar kita manusia terutama muslimah bisa mengambil hikmahnya.

Iblis senantiasa berfikir untuk merubah kehidupan Adam dan Hawa kepada jalan yang sesat dan berusaha mengeluarkan mereka dari syurga, firman Allah dalam surat Thaahaa (20):17:

“Maka kami berkata, ‘Hai Adam, sesungguhnya ini(iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari syurga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka”

Dan kemudian iblis menggoda Adam agar memakan buah dari pohon terlarang, kemudian Allah SWT murka dan mengeluarkan mereka dari surgaNya. Seperti dikisahkan dalam surat Thaahaa 120, iblis berkata kepada Adam “Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Kemudian setelah itu iblis berkata “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal dalam syurga.” Dan dia(syetan) bersumpah kepada keduanya, ‘sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua’”(Al A’raaf (7):20-21)

Dan juga dalam Qs Thaahaa (20): 120-123 : “Kemudian syetan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa? Maka keduanya memakan dari pohon itu lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun(yang ada di) syurga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, ‘turunlah kamu berdua dari syurga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain’”.

Begitulah kisah Adam yang ditipudaya Iblis dengan tipuan yang halus, tidaklah mereka mengatakan tipuan dengan hal yang menakutkan tapi dengan hal yang menggiurkan,..

Saat ini mode telah begitu menguasai dunia dengan dalih ini kan jilbab Islami,..kita tetap dapat gaul, meski berjilbab, janganlah jilbab panjang-panjang nanti masyarakat takut dan kita dicap teroris atau istri teroris?..
Atau jilbab itu bisalah panjang tapi sedikit dikasih peniti juntai diatas kepala nih kan manis, begitu kata sebagian mereka, atau adalagi yang mengakali dibelah sampingnya biar tak ketinggalan mode n terlihat jadoel, atau sering iklan-iklan itu mengusikmu, jilbab paris semriwing yang murah meriah, padahal seharusnya harus ditambahkan kain untuk mendobel kerudung itu..

Ukhty pasti masih tersimpan rapi dicatatanmu atau bahkan ingatanmu kriteria-kriteria jilbab syar’ie itu kan?.. kemana jilbab-jilbab panjang nan tebal yang dulu itu? Dulu begitu hikmat kita mengikuti kajian tentang surah An Nuur dan Al Ahzab bahkan tak jarang dari kita berurai airmata karena malu dan takut pada Allah belum bisa bersegera memenuhi perintah Allah tentang berpakaian yang sesuai syari’at itu seperti wanita-wanita Anshar yang bersegera merobek gorden rumah mereka untuk dijadikan jilbab ketika ayat tentang hijab turun sehingga dikisahkan wanita-wanita Anshar keluar dan seakan-akan di atas kepala mereka bertengger burung gagak hitam karena pakaian yang mereka kenakan.

Ukhty yakinkan perintah Allah tidak pernah berubah dan cocok sepanjang zaman dan seharusnyalah zaman itu yang mengikuti Al Qur an bukan sebaliknya dalam surat Al Ahzab :59 dituliskan “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin:’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. ‘yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  Dan juga dalam QS An Nuur 31 …”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,..”

Perintah Allah begitu jelas tak perlu ditawar agar muslimah itu menutupkan kain kudung ke dada, dan tentunya arti dada disini tidak serta merta hanya bagian dada tetapi area selingkaran dengan dada yaitu punggung lengan dan juga dibawahnya, karena perbuatan demikian lebih menutup aurat dan menjaga kemuliaan.

Ukhty masihkah Engkau ingat dalam banyak materi kajian bahwa sebagai seorang muslim harus pintar dalam hal ini berarti harus berilmu, sehingga muslimah itu harus smart bahasa kerennya, tidak asal ikut-ikutan tanpa tahu itu sesuai syari’at atau tidak. Jadi itulah yang dahulu senantiasa menjadi prinsip kita untuk senantiasa mengaji meski sesibuk apapun kita karena itulah kekuatan ruhiah yang akan mensuplai semangat kinerja kita apapun posisinya
Lantas disini tiada salahnya kita mengkaji ulang tentang cara smart kita berpakaian, tak apalah dulu teori sudah diluar kepala namun sekarang kita ulang lagi semoga ilmu tentang jilbab syar’ie ini kian barokah. Kembali kita lihat catatan tentang hadits nabi, Beliau bersabda: “Pada akhir ummatku nanti akan muncul para wanita yang berpakaian namun hakikatnya telanjang. Diatas kepala mereka terdapat sesuatu seperti punuk unta. Laknatlah mereka! Sesungguhnya mereka wanita-wanita terlaknat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma syurga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian (HR Thabrani, dalam al-Mu’jamus Shaghiir(hlm.232), dari hadits ibnu ‘Amr, dengan sanad shahih).

Ibnu Abdil Barr berkata : “Yang dimaksud oleh Nabi SAW dalam hadits ini adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tipis, yaitu pakaian yang dapat menampakkan bentuk(lekuk) tubuh dan tidak bersifat menutupi. Oleh karenanya para wanita tersebut dikatakan berpakaian namun pada hakikatnya telanjang”Dinukil oleh as-Suyuthi dalam Tanwiirul Hawaalik(III/103).

Ukhty, telah sampaikah pula sebuah riwayat dari Ummu ‘Alqamah bin Abu ‘Alqamah, ia berkata :”Aku melihat Hafshah binti ‘Abdurrahman bin Abu Bakar masuk menemui ‘Aisyah. Ketika itu, Hafshah sedang memakai khimar berbahan tipis sehingga keningnya terlihat. ‘Aisyah lantas merobek khimar itu, seraya berkata : Tahukah kamu apa yang Allah turunkan dalam surat An Nuur?’ Kemudian, ‘Aisyah minta diambilkan khimar(yang tebal), lalu ia memakaikannya kepada Hafshah.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (VIII/46)

Begitulah ukhty kisah para shahabiyah yang begitu semangat dan senantiasa patuh terhadap aturan syari’at dan bagi kita bukankah tak ada ruginya ketika mencontoh keimanan mereka, karena sebaik-baik generasi adalah yang terdekat dengan Rasulullah kemudian sesudahnya, dan seterusnya.

Muslimah harus cerdas begitu juga dalam mengikuti perkembangan mode harus bisa mensiasati dan pandai memilah saat membeli pakaian pun dalam berbisnis pakaian muslimah. Ukhty bukankah telah sampai kepada kita kajian tentang syarat-syarat jilbab syar’ie :
1.   Menutup seluruh badan selain bagian yang dikecualikan(muka dan telapak tangan)
2.      Tidak dijadikan perhiasan
3.      Jilbab itu harus tebal tidak tipis
4.      Jilbab harus longgar, tidak ketat
5.      Tidak dibubuhi parfum atau minyak wangi
6.      Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7.      Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir
8.      Tidak berupa pakaian Syuhrah(sensasi) baik itu terlalu mewah karena mahal ataupun terlalu murahan yang dipakai untuk menunjukkan sikap zuhud dan dilakukan atas dasar riya’

Semua itu agar kita tetap berpakaian sesuai dengan aturan yang telah diturunkan dalam Al Quran, sehingga ridlo Allah senantiasa ada bersama kita. Namun demikian semua kembali kepada muslimah itu sendiri karena kehidupan didunia ini adalah pilihan baik atau fujjar. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah 256 :” Tak ada paksaan dalam agama, Telah jelas yang lurus dari yang sesat. Maka barangsiapa mengingkari taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada simpul yang kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Mengetahui”.

Ukhty aku yakin kalian adalah muslimah cerdas yang tak berhenti mencari ilmu sampai disini sehingga kita senantiasa mencari ilmu itu lagi, lagi dan lagi agar keimanan itu selalu dekat dengan kita. 

Ukhty bisa langsung membaca buku-buku muslimah terkait jilbab seperti Kriteria Busana Muslimah karya Syeikh Nashirudin  Al Albani, Tipe Wanita Muslimah karya syeikh Hasan Al Bana, Wanita Pilihan di sisi Para Nabi dan Rasul karya Abdussalam Abu Ala’, Majelis Wanita karya Prof Dr. Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir, Kewajiban Wanita Muslimah karya Ummu Amru Binti Ibrahim Badawi, dan kitab-kitab lain masih banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu.

Juga jangan pernah jauh dari teman-teman shalihah yang senantiasa duduk dan berdzikir dalam majelis Ilmu. Nabi bersabda “Suatu Engkaum yang duduk-duduk bersama dan dzikir bersama niscaya para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat melimpah kepada mereka, turun ketenangan terhadap mereka, dan Allah menyebut mereka kepada yang berada disisiNya”(HR Muslim). Dan juga sabda Nabi SAW “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju syurga”(HR Muslim).

Ukhty, semoga kita senantiasa istiqomah dalam jilbab syar’ie dan senantiasa meningkatkan kualitas diri dengan tak bosan menuntut ilmu(dienul Islam).
Dan tak lagi aku katakan..”Ukhty aku rindu jilbab panjangmu”, karena aku kini lega, tersenyum dan kembali bisa memandangmu dalam balutan jilbab syar’ie, engEngkau kian teduh dan berjalan malu-malu seperti sedia kala aku bersua denganmu..

Puskomda FSLDK Priangan Timur

Puskomda FSLDK Priangan Timur
 
Support : Team MCD FSLDK Priangan Timur
Copyright © 2010. FSLDK Priangan Timur - Jawa Barat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website | Editing by Team MCD
Proudly powered by Blogger