Kilas Berita :

BERITA UTAMA

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Terbaru

Index Berita Berdasarkan Topik
Index Berita Berdasarkan Topik

Habis-habisan untuk Dakwah, Ikhwah ini Allah Berikan 'Hadiah'

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 9 Jan 2013 | 1/09/2013

Beberapa waktu lalu datanglah utusan HAMAS ke Balikpapan, Syaikh Shiyam dan Syaikh Abdul Azis bersama para pegiat peduli Palestina dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jakarta. Mereka datang dalam rangka penggalangan dana untuk Palestina. Saat itu sedang terjadi perang Hijaratus sijjil di bumi Gaza.

Siang itu terik tak terperi.  Baling-baling kipas anginku sudah mematung lantaran dinamonya telah tamat riwayatnya. Mati mendadak beberapa hari silam terserang stroke hebat karena kebanyakan berputar sementara terjadi penyumbatan-penyumbatan debu pada celah kumparannya. Kipas angin itu tak ubahnnya hanya sebuah patung maniken yang tidak laku.

Aku dan isteriku duduk berhadapan sambil bercakap-cakap dalam suasana rumah panas karena bias matahari yang mengurung rumah kami.

Aku: “Mi… kau tahu kan betapa kalau mendengar Palestina bergetar rasa tubuhku ini. Mendidih darahku hendak pergi berperang melawan Israel terlaknat. Tapi tak mungkin pula aku kesana. Paling-paling nanti ngerepotin tentara HAMAS saja, mereka repot jagain aku karena tak paham medan. Besok ada penggalangan dana untuk Palestina oleh KNRP. Masih adakah uang kita?”

Isteriku: “Aih, tak ada uang lagi kita abi, kecuali buat makan 10 hari. Tahu kan ini bulan tua? Belum gajian”.

“Ah iya… kenapa pula bulan, kau  ini cepat kali tuanya? Ini KNRP juga tak pandailah cari momen. Masak menggalang dana bulan-bulan tua begini. Tak punya almanak kah mereka ini bah? Ah memang kantor aja yang tidak mau beda dikit. Coba gajian tiap hari aja, tak usah tunggu akhir bulan.” Menggerutu aku cari kambing hitam. Padahal memang begitulah saban bulan. Besar pasak daripada tiang.

Isteriku semakin cepat mengibas-ngibaskan potongan kardus aqua yang dibuatnya kipas angin manual. Keringatnya mulai kering. Akhirnya aku perintahkan ia untuk mengumpulkan semua uang yang tersisa untuk disumbangkan ke Palestina dalam penggalangan dana besok. Kecuali hanya sedikit untuk beli bensin kendaraan. Urusan makan nanti ajalah, Allah yang atur ujarku. Isteriku yang solehah itu mengangguk saja menurut. Singkat cerita esoknya ramailah manusia berdesakan menyaksikan konser amal Opik, Sulis dan Grup Nasyid Shoutul Harokah di hotel Novotel Balikpapan.

Setiap ada yang menyumbang atau membeli barang lelang amal dalam jumlah besar, hatiku merinding. Ada yang membeli sorban Opik lima juta. Ada yang menawar delapan juta. Airmataku bercucuran. Aku demi Allah iri terhadap mereka. Seolah mereka berlomba memboking kamar di Surga. Aku tersudut dalam jasad miskin nan papa ini melantunkan potongan ayat Al-qur’an yang menurutku sangat cocok dengan kondisiku: “...lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infaqan” (QS: At-Taubah :92).

Ketika tiba waktu melelang syal rajutan keluarga Ismail Haniya dan ditandatangani oleh perdana menteri Hamas itu, suasana tegang. Dibuka harga dua puluh juta. Lalu naik perlahan-lahan dua puluh delapan juta, tiga puluh juta, enam puluh juta. Aku hampir pingsan tak berdaya. Kembali surah at-taubah ayat 92 mengiang-ngiang di telingaku. Akhirnya syal itu tutup harga tujuh puluh dua juta rupiah. Dibeli oleh sepasang pengantin muda yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka.

Lututku bergetar dan akhirnya jatuh terantuk ke atas lantai. Disusul jatuhnya airmataku setetes demi setetes. Allah… betapa beruntungnya orang kaya hari ini. Sungguh tak pernah aku iri kepada seorang kecuali hari ini. Aku hancur lebur dalam keharuan dan penyesalan. Dadaku berdegup kencang.

Belum selesai hatiku berdebam-debam dimumumkan pula kalau ada yang menyumbangkan rumahnya di Samarinda dan ada yang menyumbangkan mobilnya. Hampir saja aku pingsan. Kering kerontang tenggorokanku. Dehidrasi menahan dahaga iman yang bergejolak. Sungguh Allah hadirkan aku dalam suasana iman yang misterius ini dan menyaksikan iman orang berkelebatan menyambut seruan jihad maali. Aku hanya ternganga menatap langit-langit gedung. Hanya sanggup memancang niat, andai saja aku punya sekarung emas, akan ku-infaq-an hari ini untuk jihad Al-Aqsa.

Sudahlah tak sanggup lagi bercerita banyak mengisahkan hari indah itu. Aku dan isteriku beserta keempat anakku pulang kembali ke rumah.

Tiba di rumah aku kembali dalam suasana panas terik mengepung rumah. Aku dan isteriku duduk berhadapan. Di samping mayat kipas angin. Isteriku mengambil kembali potongan kardus untuk menjadi kipas angin manualnya.

Aku:  “Umi aku lapar, ayo makan yok!”

Aku sedikit berteriak kepada isteriku yang beranjak sebentar menghidupkan mesin cuci tua. Dari pagi pakaian itu disitu belum sempat dicuci.

Isteriku: “Hendak makan apa kita bi? Tak ada beras. Tak ada lagi uang.”

Aku: “Astaghfirullah. Iya ya? Wah bagaimana ini? Kasihan anak-anak belum makan semua lagi.”

Suasana hening. Aku menepuk jidatku sendiri dan menggenggam rambut berpikir keras cari akal untuk menghadirkan makanan. Aku butuh uang paling tidak lima puluh ribu rupiah untuk beli beras lima kiloan cap kura-kura. Supaya bisa hidup sepuluh hari dengan itu. Atau paling tidak seminggu sampai gajian.

Lama aku terdiam buntu pikiran dan tak karuan rasa. Anak-anak sudah bergelimpangan di lantai lemas lapar bercampur ngantuk. Tiba-tiba ada suara gemuruh:  “gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang….”

Aku saling bertatapan dengan isteriku. Lalu kami sama-sama berlari menuju sumber suara. Ternyata berasal dari mesin cuci yang memutar cucian tidak balance sehingga inner bucket-nya menyentuh housing tidak karuan menghasilkan suara ribut (noise) yang ekstrim.

Isteriku membuka penutup mesin cuci. Demi melihatnya kedalam betapa terkejutnya kami berdua. Pakaian yang ada semua membentuk lingkaran menempel pada dinding inner bucket dan membuat pola huruf O. Ini wajar karena efek sentrifugal akan membuat pakaian itu terlempar ke radius terluar dinding itu. Namun yang membuat kami terkesima adalah di bagian tengah lingkaran pakaian itu tepat didasar bucket bercokol sebuah lembaran kertas kumal berwarna kebiru-biruan.

Subhanallah. Maha suci Allah yang mengirimkan selembar uang lima puluh ribu rupiah ke dalam mesin cuci kami. Secara spiritual tentu saja Malaikat lah yang telah diperintahkan Allah untuk mengirim uang itu ke dalam mesin cuci kami dan mendramatisirnya dengan senandung “gludak-gluduk kerompyang….”. Tapi secara ilmiah tentu saja ini adalah lembar uang yang terlupa di kantong celana dan ikut tercuci. Secara tidak sengaja keluar dari kantong karena efek sentrifugal putaran mesin cuci. Tapi entah kapan dan di kantong celana yang mana aku tak tahu.

Kami bersorak kegirangan. Aku tancap gas ke mini market membeli beras cap kura-kura lima kilo. Kami pun hidup bertahan sampai gajian. Meski hanya dengan lauk kerupuk dan kecap.

| Ibnu Ismail

"Dosen Tak Bernyawa" Tulisan Terakhir Ukhti Novilia

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 5 Nov 2012 | 11/05/2012

Korban Saat Di Semayamkan Di UNDIP | Foto : Kompas 05/11
Innalillahi wa innailahi raaji'un, keluarga besar FSLDK Indonesia kembali mendapat kabar duka seperti yang telah diberitakan berbagai media. Novilia Lutfiatul Khoriyah (19), warga Bukitjaya, Palelawan, Riau; dan Esti Ilma Zakiya (18), Jalan Jendana Nomor 19 A, Bekasi yang merupakan Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNDIP menjadi salah satu dari 6 korban meninggal kecelakaan Bus PO Raharja, dengan nomor polisi AB 2586 AC. Sementara 22 luka-luka dan yang lain selamat. 

Bus naas tersebut mengangkut rombongan delegasi Antibiotic8 Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia (FULDFK) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. 

Donasi untuk para korban bisa melalui infak/sumbangan ke Bank Syariah Mandiri a.n puspitasari 7031267891 konfirmasi santunan ke Cp 083181603208. Dana akan dialokasikan untuk:
  1. Biaya tiket untuk para delegasi mahasiswa FK yang terpaksa hangus (bus tadinya akan mengantar ke stasiun/bandara). 
  2. Biaya RS utuk yang dirawat. 
  3. Santunan untuk kelurga yang jadi korban meninggal.

Semoga segala amal ibadah para korban diterima disisi Allah SWT, dan diberikan kesabaran bagi semua keluarganya khususnya, umumnya bagi yang selamat semoga diberikan kesembuhan seperti sediakala. aamiin....

Dan berikut ini tulisan terakhir Ukhti Novilia salah satu korban meninggal yang ditulis lewat blognya pada tanggal 1 November 2012 berjudul "Dosen Tak Bernyawa".

==================================
“Manusia berawal dari setetes air mani yang hina Berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk Dan saat ini berada diantara keduanya dengan membawa kotoran kemana-mana” 
-Salim A. Fillah- “Dalam Dekapan Ukhuwah”


Kematian  merupakan salah satu topik yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang, apalagi kita yang masih muda-muda. Sukar dimulai dan mudah untuk dihentikan. Padahal setiap manusia tak akan pernah tahu waktu kedatangannya. Kematian tak akan memandang umur, tua muda akan mati bila waktunya memang telah tiba.

Setiap kali memasuki ruangan praktikum anatomi jantungku selalu berdesir miris. Seonggok tubuh yang terbujur kaku dengan bentuk yang sudah tak beraturan dan tak “manusiawi” menjadi pemandangan yang selalu ditemui setiap minggunya. Melawan  kodrat alam, dipaksa tak membusuk dengan formalin. Tubuh-tubuh yang dulunya selalu dibanggakan, tegap, gagah, langsing dan sebagainya yang menjadi pemicu dosa bila tak digunakan dalam koridor syariat-Nya.

Untuk melawan rasa takut, hal pertama yang aku perhatikan saat menghadapi cadaver adalah wajahnya. Walaupun tetap bergidik merinding melihat otot-otot wajah yang menegang saat sakaratul maut. Tergambar jelas kesakitan yang dirasakan saat  detik-detik malaikat Izrail menjemput. Bahkan manusia termulia, dengan pengambilan ruh yang benar-benar pelan dan lembut  saja merasakan sakit yang benar-benar sakit. Apalagi kita, yang sadar akan siksa neraka namun tetap rutin berbuat dosa.

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.

Seringkali  tak teganya rasanya membuka lapisan demi lapisan  kulit mereka, menarik-narik otot untuk mencari perlekatannya, mengorek-ngorek menemukan pembuluh darah serta syaraf yang letaknya tersembunyi dan lain-lain. “ Ini dulunya juga manusia Nov, sama sepertimu,  maka perlakukanlah dengan baik dan lembut”, ucapku pada diri sendiri.

Perasaan jijik juga sering mendatangi, bersyukur pada Allah yang memberikan rasa lupa pada manusia. Sehingga aku dan teman-teman masih bisa makan walaupun baru saja memegang dan berkutat dengan cadaver menggunakan tangan kosong, setelah cuci tangan tentunya.

Laboratorium anatomi dan seluruh mayat-mayat  didalamnya selalu mengingatkanku akan datangnya kematian yang tak tahu kapan akan menjemputku. Mereka  adalah guru-guruku, guru dunia karena mengajarkan banyak ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi reminder akan kehidupan dunia yang sementara ini.

Mayat-mayat yang tak jelas asal usulnya, tunawisma, preman dengan tato-tato di tubuhnya dan entah siapa itu tak pernah mengharapkan tubuhnya disayat-sayat dan dipotong-potong menjadi media pembelajaran kami. Semasa hidupnya mereka pasti mengharapkan mayatnya kelak diurus sewajarnya. Dimandikan, disholatkan, dikafani, dimakamkan, dan didoakan oleh keluarga. Pantas atau tidak mereka bisa disebut orang-orang yang tidak beruntung.

Salah seorang temanku pernah bertanya “Apa dosa-dosa mereka bisa tergugurkan ya? Secara fisik mereka adalah preman yang tak pernah kita tahu amal ibadahnya, dan dilihat dari niat mereka tak pernah berharap jadi media praktikum.”

“Hanya Allah yang tahu, tugas kitalah selalu berdoa agar dosa-dosa mereka diampuni melalui setiap sentuhan dan perlakuan yang kita berikan pada mereka” ucapku menutup pembicaraan seusai praktikum bebas malam itu.

Ya Allah, siapapun mereka, ampunilah dosa-dosa mereka

Jadikanlah setiap perlakuan yang kami berikan sebagai penggugur dosa mereka

Terimalah setiap amal ibadah mereka semasa hidup dulu

Gantikanlah liang lahat mereka dengan rumah-rumah surga-Mu

Gantilah kain kafan mereka dengan baju-baju kebesaran penghuni surga

Sayangilah mereka

Karena mereka kami mengenal ilmu-ilmu Mu

Karena mereka kami menjadi orang yang bersyukur

Dan karena mereka, kelak kami bisa menolong hamba-hamba Mu

| Dari berbagai sumber


Pilih Marah Atau Ramah Ya ?

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 1 Nov 2012 | 11/01/2012

Sobat, manakah yang kamu pilih antara Marah atau Ramah ? Penasaran yuk kita simak bersama Tweet dari akun @Annida_Online dgn Hashtag #Ramah
  1. bisakah kita menjadi orang yang ramah sekaligus marah ? 
  2. Meski cuma kebalik letak huruf 'M' & 'R' doang, tapi RaMah & MaRah merupakan 2 sikap yg beda jauh bgt yah Sob. 
  3. Ramah bisa bikin orang seneng, tenang, nyaman, sedangkan marah bisa bikin orang panas, badmood, bête, dan kesel. 
  4. Tapi uniknya, Islam justru meminta kita untuk punya dua sikap ini sekaligus Sob, gak men-delete salah satunya. 
  5. Islam gak sekedar nyuruh kita berbuat ramah(baca: amar ma'ruf), tapi jg musti bisa 'marah' (baca: nahi mungkar) 
  6. Kalo kita cuma bisa ramah tapi gak bisa marah, begitu ngeliat orang zolim, misalnya... 
  7. ngeliat orang bikin bakso dr daging tikus, kita malah sungkan menegur, dengan dalih, "Aah, kasian tuh abang… 
  8. udahlah yang penting gue gak makan di situ, biarin orang lain yang negur dia, gue gak enak ati…!" Ngaco kan? 
  9. Ngeliat temen korupsi uang orang, kita pura-pura gak tau dan sungkan untuk nasehatin. 
  10. Tahu sahabat kita berzina, kita gak berani untuk menegur. Ckckck... parah kan kalo gak bisa 'marah' Sob? 
  11. Selain itu, kalo kita cuma punya sikap ramah tapi gak bisa marah, besar kemungkinan kita jadi korban 'makan ati' terus-terusan. 
  12. Kita sangka orang lain jahat pada kita, padahal bisa jadi… kita-lah yang lemah nahi mungkarnya. 
  13. Jelas-jelas dizolimi tapi diam saja. Misalnya, seorang istri yang gak dinafkahi sama sekali oleh suaminya,...
  14. ...berhak untuk marah dan menuntut, justru kalo gak marah sama saja membiarkan suaminya menjadi orang zolim. 
  15. Padahal Allah gak suka dengan hamba-Nya yang diem aja ngeliat kemungkaran: 
  16. "Bahwasanya manusia itu bila mengetahui orang berbuat zhalim kemudian mereka tidak mengambil tindakan,...  
  17. ...maka Allah akan meratakan siksaan kepada mereka semua." (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa'i) 
  18. Nah, sebaliknya Sob, kalo kita cuma bisa marah tanpa ada sikap ramah, gak bakal ada orang yang bisa merasakan indahnya Islam.
  19. Di mana letak 'rahmatan lil'alamiin' nya seorang muslim yang dalam dirinya penuh rasa curiga dan amarah?
  20. Semua orang dianggap kafir, bid'ah, dan sesat. Aihh... cape deehh.
  21. So, ramah dan marah perlu banget dikolaborasi apik Sob.
  22. Ada kalanya kita harus bersikap ramah, yaitu ketika menganjurkan orang lain untuk berbuat kebaikan,
  23. ...tapi kadang kala kita perlu juga marah dan tegas bersikap begitu melihat kemungkaran.
  24. Nih sedikit tips cara mix en match keramahan dan kemarahan: 
  25. Satu,  Kudu, wajib, musti, harus RAMAH dalam berdakwah! 
  26. Misalnya ngingetin orang awam untuk berhijab, yaa jangan dengan marah-marah plus ngeluarin dalil ayat plus hadits yang berat, Sob.
  27. Gak boleh begini, gak boleh begitu. Bisa kabur dah orangnya karena bete.
  28. Pelan-pelan dan tetap sopan insya Allah lebih tokcer daripada grabag grubug gak sabaran.
  29. Dua, Kudu MARAH ngeliat orang berbuat zolim 
  30. 'Marah' itu sendiri punya banyak metode Sob, bisa dengan perbuatan, kata-kata, dan doa
  31. "siapa di antara kamu sekalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dgn kekuasaannya, kalau tidak mampu maka dgn tegurannyakalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang terakhir adalah selemah-lemahnya iman." (H.R. Muslim) 
  32. Tiga, Jangan sampe munafik ke diri sendiri Yg ga kalah penting, jgn sampe kita dgn ramah nyuruh orang berbuat baik, ternyata kita sendiri ga melakukan perbuatan baik itu
  33. atau sebaliknya... kita marah-marah ke orang zolim, padahal kita sendiri masih melakukan kezoliman tersebut, Sob. Duuh, bahaya deh...
  34. Abu Zaid Usamah bin Haritsah ra., berkata: "Saya mendengar Rasulullah bersabda:
  35. "Pada hari kiamat kelak ada seseorang yang digiring lantas dilemparkan ke dalam neraka,
     ...seluruh isi perutnya keluar lalu berputar-putar seperti berputar-putarnya keledai di kincir, 
  36. ...emudian seluruh penghuni neraka berkumpul mengerumuninya, lantas menegur:
  37. "Wahai Fulan, apa yang terjadi padamu, apakah kamu tidak beramar ma'ruf dan nahi munkar?"
  38. Ia menjawab: "Ya saya menganjurkan kebaikan tetapi saya sendiri tidak menjalankannya,... 
  39. ...dan saya melarang kemunkaran tetapi saya sendiri malah mengerjakannya." (H.R. Bukhari & Muslim)
  40. Semoga kita selalu berupaya melakukan kebaikan dan dengan ramah menyuruh orang berbuat kebaikan pula,
  41. ...serta membenci keburukan dan bisa marah pada perbuatan buruk yang dilakukan orang lain serta diri sendiri.

| Tweet By. @Annida_Online

UGM Luncurkan Program Penghafal Alquran

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 22 Okt 2012 | 10/22/2012

Launching GMMQ                           Foto : FB JS UGM
Kampus Biru Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai menggiatkan gerakan menghafal Alquran dalam Gadjah Mada Menghafal Qur’an  (GMMQ). Tekadnya mencetak generasi penghafal Alquran berintelektualitas.
 
“Program GMQQ ini diharapkan mampu melecut pertumbuhan penghafal Alquran di Indonesia. Kami juga berharap agar kampus-kampus lain di Indonesia termotivasi dengan membuat gerakan yang sama, yaitu gerakan menghafal Alquran,” terang Ketua Jama’ah Shalahuddin UGM Arif Nurhayanto, Senin (22/10).

Berbagai kegiatan keislaman seperti kajian, diskusi, tabligh akbar, dan ragam kajian nantinya gampang dijumpai di UGM. Keseriusan para aktivis lembaga dakwah kampus ini terlihat dari pembentukan Semi Otonom GMMQ pada hari Jumat (19/10) lalu. Badan semi otonom ini memiliki program khusus untuk mewadahi para mahasiswa UGM yang ingin menjadi penghafal Alquran.

“Gebrakan terbaru yang dibuat oleh aktivis dakwah kampus UGM,” terang Arif.

Jama’ah Shalahuddin bertekad mewujudkan nuansa keislaman karena melihat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penghafal Alquran terbanyak di dunia. Jumlah penghafal Alquran sekitar 30 ribuorang. Namun, ujar Arif, jumlah tersebut masih kecil bila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk Indonesia.

GMMQ ini dilaunching secara resmi oleh Direktur Kemahasiswaan UGM secara simbolik menyerahkan satu buah mushaf Alquran kepada ketua Jama’ah Shalahuddin UGM (Baca: 'UGM Menghafal Alquran Baru Luar Biasa'). Di penghujung acara Doni Saktiawan selaku direktur pelaksana GMMQ mempresentasikan rancangan program dan kurikulum GMMQ.

Dia memaparkan bahwa program utama dari GMMQ adalah Tahfidzul Qur’an yang terdiri dari beberapa pilihan paket. Yaitu paket 30 juz, 8 juz, 4 juz dan One Day One Ayat. Selain itu juga akan diusahakan penyediaan Alquran berstandar Madinah untuk civitas UGM. Doni menyampaikan bahwa program ini gratis bagi mahasiswa UGM alias tidak dipungut biaya.

| Republikaonline

Mentoring dan Jalanan Tanpa Aspal

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 18 Okt 2012 | 10/18/2012

Dalam Perjalanan Menuju Rumah Rai
Hari ahad 3 Minggu yang lalu merupakan hari yang penuuuh semangat, seperti biasa handbag kecil berisi Al Qur'an dan buku catatan kecil menemani perjalanan untuk mencari "sesuatu" di lingkaran kecil itu. Tapi bagiku Ahad ini menjadi hari yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena kali ini kisah di kampungku kelak jadi inspirasiku
 
Pukul 12.00 dengan matahari tepat di atas kepala terasa terik, meski begitu cuasa di sini tetap sejuk karena hutan masih terjaga. Sebut saja Aku, Raka, dan Murobbi ku berangkat untuk mentoring yang kali ini bertempat di rumah teman ku sebut saja bernama Rai, memang cukup jauh sekitar 1,5 Jam perjalanan memakai sepeda motor dengan kondisi jalanan yang rusak parah.

Jalan pintas menjadi pilihan untuk cepat sampai tepat waktu, iring-iringan motor yang dipimpin oleh murobbi ku menambah seru selama perjalanan. Tapi, jalan pintas ini bukanlah jalan yang mulus tidak ada aspal yang menempel pada jalan tapi penuh dengan hiasan Batu-batu dan tanah kering berdebu tidak heran jika bertemu dengan tanjakan kami pasti turun dari sepeda motor untuk sama sama mendorong motor agar tetap naik dan melaju.

"Ah, Tadz kok malah jalan ke sini nanti terlambat dan rusak nih motor" teman ku mengeluh. "Eh akh, ana ingin kasih tau antum bahwa di indonesia ini masih ada jalan yang belum selesai sekaligus ana ingin silaturahim dengan masyarakat yang kita lewati" sahut Murobbi ku. Aku pun tersenyum mendengarnya ternyata masih ada yang peduli dan sempat terbesit juga dalam fikiran, benar juga kata temanku kenapa harus capek-capek ngambil jalan pintas ya dan kenapa murobbi ku harus pake motor yang sudah rusak tidak layak ini kan Murobbi ku ada mobil dengan plat merah titipan rakyat itu ??

Memang benar, hampir setiap ketemu dengan masyarakat di jalan, murobbi ku selalu menyapa dengan melambatkan laju motornya atau sebaliknya masyarakat menyapa dengan senyuman. Aku pun jadi teringat perkataan seseorang, jika kita ingin mengetahui karakter sahabat kita ajak dia jalan-jalan ke tempat jauh dan di sinilah aku tahu siapa sahabat saya dan seperti apa saya.

Singkat cerita kami bertiga sampai di rumah Rai, peluk dan ucapan salam menyapa kami dengan segelas air putih lalu kami pun duduk di atas tikar mendong di ruang utama rumah. Lelah pun kami sandarakan pada dinding rumah dari bilik bambu itu, kehangatan papan dari kayu begitu terasa dan kelapangan ruangannya begitu efisien karena rumah Rai ini tidak mempunyai kursi. Sekilas aku teringat kondisi ini akan Rumah Morobbi ku.... Bahkan jika ada yang bertamu ke rumah Murobbi ku, seringkali mereka salah masuk rumah mereka malah masuk ke rumah tetangganya yang mentereng, ya karena sangat sederhananya dari seorang pengemban amanat rakyat ini. Alhamdulillah aku bersyukur mempunyai murobbi seperti ini.

Setelah beberapa menit istirahat dan ngobrol-ngobrol ringan, kami pun memulai mentoring dengan Bacaan Al Qur'an dan mulai mengeluarakan senjatanya, spidol dan papan tulis. Kali ini kami menyimak tentang "Etika Berjamaah" aku masih ingat ini materi ini adalah materi pertama saat aku mengenal mentpring ini. Beberapa saat kemudian datang lah 2 temanku sebutlah Bagus dan mukhtar rumahnya juga jauh sekitar 2 jam memakai motor dari tempat ini mereka luar biasa militansi dan pengorbanannya. 
 
Cepat cepat aku sembunyikan hidangan kerikip singkong kalau ada Bagus pasti habis semua. :D. "Eh, akh antum mau ngapain tenang keripik masih banyak, kan kita sedang bahas "etika berjamaah" jadi makan pun harus berjamaah. haha semua tertawa. 
 
Tak terasa waktu ashar pun tiba. Mentoring dipending dulu dengan shalat ashar berjamaah. Tak terasa keripik singkongnya habis, pertemuan kali ini pun diakhiri kami pun bersalaman untuk berpamitan pulang.

Aku dan Murobbiku pulang bersama berboncengan, murobbi pegang kemudi nya. Sempat aku ragu, dengan motor gini nyampai ga ke rumah yang mana waktu sudah mau magrib. Ditengah perjalanan aku merefleksikan ulang materi tadi dengan kondisi yang aku alami saat ini, ketika Nikmatnya berjamaah hilang tergerus habis karena egoisme dan kepentingan pribadi setiap ada perbedaan aku masih belum dewasa dalam menyikapinya padahal "Keruhnya perbedaan pendapat dalam berjamaah itu, lebih baik dari pada jernihnya pemikiran diri sendiri".

Tapi waktu pulang tidak menempuh lagi perjalanan terjal tadi, aku pun menikmati perjalan pulang sambil sesekali ngobrol dengan Murobbi ku akan kondisi masyarakat yang kami lewati....

| Kiriman Dari Hamba Allah


 

10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah - Dzulhijjah merupakan salah satu bulan istimewa dalam Islam. Terutama, pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah itu. Setidaknya, ada 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah sebagai berikut :

1. Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang mulia dan barakah
Keutamaan pertama dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, bahwa waktu itu adalah waktu yang mulia dan barakah.

Bukti kemuliaan ini adalah sumpah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an al-Karim.

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh (QS. Al-Fajr: 1-2)

“Wa layaalin ‘asr (dan malam yang sepuluh)," kata Imam al-Thabari dalam tafsirnya,"adalah adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli tafsir.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan hal yang sama dalam tafsir Qur'anil adhim. “Dan malam-malam yang sepuluh," tulisnya, "adalah sepuluh (hari pertama) Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.”

2. Amal pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah paling dicintai Allah
Keutamaan kedua dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, bahwa amal di waktu itu paling dicintai Allah Ta'ala.

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

3. Haji dilakukan dalam waktu itu
Keutamaan ketiga dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, bahwa di waktu itulah disyariatkan Ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima.

4. Di dalamnya ada hari Arafah
Keutamaan keempat dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, pada waktu itu ada hari Arafah, yaitu jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari itu jama'ah haji diwajibkan melakukan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. Sedangkan bagi umat Islam yang tidak sedang menjalankan ibadah haji disunnah melakukan puasa arafah yang keutamaannya dapat menghapus dosa selama dua tahun.

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

5. Pahala Amal di Hari-hari itu dilipatgandakan
Keutamaan kelima dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, amal-amal pada hari itu dilipatgandakan pahalanya, baik amal di siang hari maupun amal di malam hari.

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Tentu saja, ada pengecualian untuk puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah karena pada hari itu diharamkan berpuasa.

6. Keistimewaan membaca tahlil, takbir dan tahmid
Keutamaan keenam dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, istimewanya waktu itu untuk membaca tahlil, takbir dan tahmid sehingga Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk memperbanyaknya.

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)

7. Di dalamnya ada Idul Adha
Keutamaan ketujuh dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, pada akhir waktu itu yaitu tanggal 10 Dzulhijjah adalah Hari raya Idul Adha yang merupakan hari yang sangat istimewa bagi umat Islam.

8. Di dalamnya disyariatkan ibadah udhiyah (berkurban)
Keutamaan kedelapan dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, disyariatkannya ibadah udhiyah. Yaitu menyembelih kurban -baik unta, sapi atau kambing- yang dimulai pada tanggal 10 Dzulhijjah itu.

9. Disyariatkannya Takbir Muthlaq
Keutamaan kesembilan dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah disyariatkannya takbir muthlaq (setiap saat) dan muqayyad (setelah shalat fardhu). Kesempatan bertakbir ini jauh lebih panjang daripada Idul Fitri.

Ibnu Taimiyah dalam majmu' Fatawa menjelaskan, "Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat".

10. Berkumpulnya Induk-induk Ibadah
Keutamaan kesepuluh dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah berkumpulnya induk-induk ibadah pada waktu itu. Sebab inilah yang menjadikan 10 hari pertama bulan Dzhulhijjah begitu istimewa.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

Demikian 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan keutamaan-keutamaan itu, termasuk pada bulan Dzulhijjah 1432 H ini.

| Bersamadakwah.com

Semangat Sore By FSLDK JADEBEK

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 11 Okt 2012 | 10/11/2012

  1. Cobalah dulu, baru cerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirlah dulu, baru berkata
  2. Karena hidup tidak mungkin tanpa masalah, dan masalah pun tidak mungkin tiada ujungnya
  3. Ada dua macam manusia di dunia ini. Mereka yg mencari alasan dan mereka yg mencari keberhasilan
  4. Mari kita ubah sikap kita yg selalu khawatir menjadi selalu berpikir dan selalu berencana
  5. Apa yg pantas kau syukuri jauh lebih besar dan penting daripada yg bisa kau keluhkan
  6. Nikmatilah kesulitan,krn seringkali kesulitan mengantar kita pd hasil yg lbh baik dr apa yg pnh kita bayangkan
  7. Berusahalah utk tdk hny mjadi org yg bhasil, tp jg bguna bagi diri sendiri,keluarga & orang lain
  8. Tak sedikit orang yg mengeluh tentang kekurangannya, tanpa menyadari kelebihannya
  9. Tak ada orang yg bangga karena berbuat salah...
  10. ...namun dia bisa bangga jika setelah itu dia sukses karena telah belajar dari kesalahannya
  11. Salah satu kesalahan terbesar adalah suka menganggap enteng diri sendiri...
  12. Mulai sekarang, jangan meremehkan kemampuanmu lagi ya :)
  13. Dan selalu siapkanlah perencanaan ...krn itu bs mbantu mengantisipasi bbagai kmungkinn buruk yg mgkn tjadi saat kt mwujudkan cita2
  14. Apapun kebaikan yang kita lakukan, niatkan karena Allah..
  15. Tetap semangat ya Sob.. \^o^/

| @fsldk_jadebek

KulTwit JS UGM Tentang #Tawadhu'

  1. Kita hanya manusia yg bergantung kpd-Nya, tanpa daya menentukan hasil apapun di dunia ini. Lalu apa yg pantas kita sombongkan? #Tawadhu'
  2. Namun sungguh kelebihan yang ada pada diri kita terkadang malah memalingkan kita dari kebesaran-Nya #Tawadhu'
  3. Harta, tahta, wanita, dan rupa telah menjadikan kita sombong bahkan menuhankannya tanpa kita sadari. #Tawadhu'
  4. Belum berhenti, pujian dn sanjungan bahkan mnjd tujuan utama setiap tindakan. Dan masihkah bisa kita sebut itu bkn sombong? #Tawadhu'
  5. Bahkan terkadang sampai merambah ke ranah dakwah. Dakwah bukan lagi berorientasi ridho, tapi riya' ilmu (Lindungi kami ya Rabb) #Tawadhu'
  6.  Mengharap pujian dan sanjungan, bahkan kedudukan dan pengakuan terhadap eksistensi #Tawadhu'
  7. Semua itu kembali lagi berpangkal pada sombong. Dan pada akhirnya, kita menganggap kita adalah manusia terbaik di dunia ini #Tawadhu'
  8. Saat itu terjadi, sungguh tak nampak kebenaran yang nyata bagi kita selain "kebenaran" versi kita sendiri #Tawadhu'
  9. Bukankah Rasulullah telah mengajarkan kita bagaimana bertawadhu'? #Tawadhu'
  10. Bagaimana sikap yang beliau tunjukkan saat fathu makkah? lupakah kita akan hal itu? #Tawadhu'
  11. Sungguh beliau membawa kemenangan atas kaum kafir Makkah, tapi tak ada kesombongan dalam dlm diri dan hati beliau #Tawadhu'
  12. Karena sungguh, beliau paham bahwa kemenangan ini adalah hadiah Allah baginya dan bagi para muslim #Tawadhu'
  13. Dan bukankah Imam Al Ghazali juga telah mengajarkan kepada kita bgmn bertawadu'? bahkan kepada seorang Kafir sekalipun. #Tawadu'
  14. Jika melihat anak kecil, katakan dalam hati, 'Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah Sedangkan aku telah bermaksiat. sungguh ia lebih baik dari ku #Tawadhu'
  15. Jika melihat orang yg lebih tua katakan dlm hati, 'ia telah beribadah sebelum aku melakukannya. Sungguh ia lebih baik dariku.' #Tawadhu'
  16. Jika melihat org alim/pandai, katakan dlm hati, 'ia telah memperoleh apa yg blm aku peroleh. Maka, bgmn aku setara dengannya.' #Tawadhu'
  17. Jika melihat orang bodoh, katakan dalam hati, 'ia bermaksiat dlm kebodohan, sdgkn aku bermaksiat dlm keadaan tahu. Maka, hujjah Allah terhadapku lebih kuat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya & akhir hidupku.' #Tawadhu'
  18. Jika org itu kafir, katakan, 'Aku tidak tahu, bisa jadi ia menjadi Muslim, akhir hidupnya ditututup dengan amal baik hingga aku kufur dn menutup usia dgn amalan keburukan. Shg ia kelak termasuk mereka yg dekat dgn rahmat sdgkn aku jauh dari-Nya.' #Tawadhu'
  19. dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku, dan aku berlindung kepada Allah dari hal ini, bisa saja aku tersesat
  20. Mungkinkah kita telah lupa dgn semua pesan ini? Atau mungkin melupakannya krna kita mnikmati kesombongan ini tnpa kita sadari? #Tawadhu'
  21. Sungguh sombong itu tak tampak teman, hingga kita melihat ke dalam diri kita dalam keadaan tenang #Tawadu'
  22. Bukankah kita tidak bisa berkaca pada air yang beriak? Sungguh kita baru bisa berkaca ketika air itu telah tenang.
  23. Dan ketika kita berkaca dan kita sadar, bisa jadi setiap amalan kita telah hangus terbakar sombong, seperti kayu terbakar api #Tawadhu'
  24. Karena itu, mari bermuhasabah setiap hari teman, agar sombong ini tak menyelinap dalam setiap amal dan perbuatan kita #Tawadhu'
| @jsugm 

Kisah Pemuda Kader Ahli Sihir

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 29 Sep 2012 | 9/29/2012

Dahulu ada ada seorang Raja mempunyai seorang Ahli Sihir. Setelah Ahli Sihir itu tua, ia meminta kepada Raja agar mengirimkan orang pemuda untuk dikader menjadi ahli sihir. Maka dikirimlah kepadanya seorang pemuda -menurut riwayat Ibnu Ishak di Sirah Ibnu Hisyam, nama pemuda ini Abdullah bin Tsamir–.

Di tengah perjalanan untuk belajar ilmu sihir, Pemuda itu berjumpa dengan seorang Rahib. Lalu duduk sejenak dan mendengarkan kata-kata sang Rahib hingga ia tertarik. Maka sejak itu setiap hari ia akan ke tempat Ahli Sihir, ia singgah terlebih dahulu ke tempat sang Rahib untuk mendengarkan ilmu yang diberikannya. Akibatnya, si Pemuda selalu terlambat tiba di tempat Ahli Sihir. Gurunya, si Ahli Sihir, menghukum pukul si Pemuda atas keterlambatannya.

Si Pemuda menceritakan kepada sang Rahib bahwa ia selalu dihukum guru sihirnya karena selalu terlambat. Sang Rahib menyarankan, “Bilang kepadanya, engkau menyelesaikan pekerjaan rumah dahulu. Kalau kamu takut dimarahi keluargamu karena pulang terlambat, katakan kepada mereka ada pekerjaan dari guru sihirmu.”

Suatu ketika dalam perjalanan si Pemuda bertemu dengan binatang yang sangat besar dan membuat orang-orang takut. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Sekarang saatnya aku mencoba, siapakah yang lebih baik: Rahib atau Ahli Sihir.” Lalu ia mengambil sebuah batu dan berucap, “Ya Allah, jika yang benar bagimu adalah Rahib dan bukan Ahli Sihir, maka bunuhlah binatang itu agar orang-orang tidak terganggu.” Ia lempar batu itu. Kena. Binatang itu mati.

Segera si Pemuda menemui Rahib. Ia ceritakan semua peristiwa yang baru terjadi. Sang Rahib berkata, “Anakku, hari ini engkau lebih baik dari aku. Engkau akan mendapat cobaan. Janganlah engkau beritahu tentang aku.”
Bersamaan dengan berjalannya waktu, si Pemuda memiliki keistimewaan. Ia mampu menyembuhkan orang buta, mengobati penyakit kulit, dan berbagai penyakit lainnya. Keahliannya ini sampai ke telinga seorang Pengawal Raja yang buta. Pengawal Raja ini datang sambil membawa banyak hadiah. “Jika engkau mampu menyembuhkanku, engkau mendapat hadiah yang istimewa,” katanya.

Si Pemuda menjawab, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah swt. Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah swt. menyembuhkanmu.”
Si Pengawal pun beriman. Allah swt. menyembuhkan matanya. Pulanglah ia ke istana dan kembali bertugas mendampingin Raja seperti biasa. Tentu saja Raja kaget. Pengawalnya sudah tidak buta lagi.
“Siapa yang menyembuhkanmu?” tanya Raja.
“Tuhanku,” jawab si Pengawal.
“Apakah ada Tuhan selain aku?” tanya Raja lagi.
“Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah,” jawab si Pengawal.
Raja marah. Ia memerintahkan pengawal-pengawalnya yang lain untuk menyiksa si Pengawal beriman itu. Raja ingin tahu siapa orang di balik perubahan akidah Pengawalnya itu. Maka tersebutlah nama si Pemuda.
Raja luar biasa murka. Si pemuda dipanggil untuk menghadap. Raja berkata, “Wahai anak muda, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta dan orang yang terkena penyakit kulit. Engkau juga mampu melakukan yang tak dapat diperbuat orang lain.”
Si Pemuda berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang dapat menyembuhkan hanya Allah swt.”

Mendengar jawaban itu Raja murka. Ia menyiksa Pemuda itu. Raja menyiksanya terus menerus hingga tersebutlah nama sang Rahib sebagai guru si Pemuda. Raja memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk menangkap sang Rahib. Setelah sang Rahib berhasil di hadirkan, Raja berkata, “Keluarlah dari agamamu!” Sang rahib menolak. Ia dihukum gergaji. Tubuhnya terbelah menjadi dua dari kepala hingga tubuh bagian bawah.
Raja juga memerintahkan Pengawalnya yang telah beriman untuk keluar dari keyakinan barunya, “Keluarlah dari agamamu!’ Si Pengawal menolak. Ia pun dihukum gergaji. Tubuhnya terbelah menjadi dua, dari kepala hingga ke tubuh bagian bawah.

Lalu Raja memanggil si pemuda. “Keluarlah kamu dari agamamu!” Si Pemuda menolak. Raja menyuruh beberapa pengawalnya membawa Pemuda itu ke atas gunung. “Jatuhkan dia dari puncak gunung kalau dia tidak mau keluar dari keyakinannya.”
Setelah sampai di puncak gunung si Pemuda berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku dari mereka.” Gunung pun bergoyang. Para pengawal yang akan mengeksekusi si pemuda itu jatuh. Mati.
Si Pemuda yang selamat datang kepada Raja. Raja heran, “Apa yang mereka perbuat kepadamu?” “Aku telah diselamatkan oleh Allah swt.,” tegas si Pemuda.
Maka Raja memerintahkan pengawalnya yang lain untuk membawa si Pemuda ke tengah laut. Lemparkan jika ia tidak keluar dari agamanya, begitu perintah Raja. Ketika sampai di tengah laut, si Pemuda berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku dari mereka.” Tiba-tiba perahu oleng. Terbalik. Semua tewas tenggelam, kecuali si Pemuda.

Sekali lagi si Pemuda menghadap Raja. Raja terkejut, “Apa yang terjadi?” Dengan tegas si Pemuda berkata, “Allah membinasakan mereka dan menolong aku.” Lalu ia menambahkan, “Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali engkau mengikuti saranku.”
“Apa itu?” tanya Raja.
“Kumpulkan rakyatmu di sebuah lapangan luas dan engkau salib aku di sebatang kayu. Lalu panah aku dengan busur milikku sambil kau ucapkan bismillah Rabb ghulam, dengan nama Allah Tuham pemuda ini. Jika engkau lakukan itu, engkau akan berhasil membunuhku.”
Raja pun melakukan apa yang disarankan si Pemuda. “Bismillah Rabb ghulam,” ucap Raja. Panah pun meluncur. Tepat menembus pelipis si pemuda. Si pemuda meletakkan tangannya di pelipis yang terkena anak panah. Ia pun menghembuskan nafas terakhir. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu berkata, “Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini.”

Seseorang berkata kepada Raja, “Tidakkah engkau saksikan apa yang engkau khawatirkan? Orang-orang telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu.”
Raja murka luar biasa. Ia memerintahkah tentaranya membuat parit lalu mengisi parit itu dengan api yang membakar. “Yang tetap beriman kepada Tuhannya pemuda itu, ceburkan ke dalam parit itu!” titah Raja terucap. Maka, satu per satu orang-orang yang beriman kepada Tuhannya si Pemuda diceburkan ke dalam parit berapi itu. Sampai giliran seorang wanita yang menggendong anaknya. Ia ragu untuk mencebut ke dalam kobaran api. Anaknya berkata, “Wahai ibu, sabarlah. Lakukan, engkau berada dalam kebenaran.”

Begitulah, kisah orang-orang yang beriman sebelum kita. Rasulullah saw. menceritakannya kepada kita seperti yang diriwayatkan Muslim (3005), Tirmidzi (3340), Ahmad (6/17, 18), Nasa’i (11661), Ibnu Hibban (873), Tharani (7319), Ibnu Abi Ashim (287). Mereka telah membuktikan kebenaran iman mereka. Dan pasti akan tiba giliran kita untuk diuji? Semoga Allah swt. mengokohkan iman di hati kita apa pun yang terjadi. Amin.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam, Tafsir Ibnu Katsir, dan Mu’jam Al-Buldan disebutkan, jenazah Pemuda ini ditemukan di zaman Khalifah Umar bin Khaththab. Jari si Pemuda tetap berada di pelipisnya seperti ketika ia dibunuh. Penemuan ini terjadi saat seorang penduduk Najran menggali lobang untuk suatu keperluan. Ketika tangan si Pemuda ditarik dan dijauhkan dari pelipisnya, darah memancar dari luka panas. Jika tangannya dikembalikan ke posisi semula, darah itu berhenti mengalir. Di tangan si Pemuda tertulis kata-kata Rabbku adalah Allah. Mendengar kabar itu, Umar bin Khaththab memerintahkan agar jasad di Pemuda dibiarkan seperti semula.
Ibnu Katsir berkata, “Kisah itu terjadi antara masa Isa bin Maryam a.s. dengan Rasul Muhammad saw., dan ini lebih mendekati. Wallahu a’lam.”
– Kisah Ashabul Ukhdud –

sumber : dakwatuna.com

Rahasia Amanah

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 25 Sep 2012 | 9/25/2012

Kata amanah satu akar dengan kata iman, aman. Dalam surah Al-Mu’minun:8 Allah menyebutkan bahwa di antara ciri ahli surga adalah menjaga amanah. Ustadz Sayid Quthub menjelaskan dalam tafsirnya, maksud amanah dalam ayat tersebut adalah amanah iman. Dari sini kita mendapatkan beberapa pelajaran:

Pertama, bahwa menjaga amanah adalah bagian dari iman. Sungguh dipertanyakan iman seseorang yang sering berbuat khianat, tidak menjalankan amanah sebagaimana mestinya. Karena itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, menjelaskan bahwa di anatara ciri manusia munafiq adalah: “Bila berbicara berdusta, bila berjanji melanggar dan bila dipercaya mengkhianati.” Dari sini nampak bahwa masalah amanah –apapun namanya- : jabatan, harta, anak dan lain sebagainya, itu kelak pasti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah swt.

Itulah yang membuat Umar bin Khaththab tidak enak tidur ketika diberikan kepadanya amanah kepemimpinan. Umar masih selalu menagis, sekalipun semua rakyatnya telah menikmati buah keadilan yang ia tegakkan. Menangis karena takut kalau kelak di hari Kiamat ketahuan bahwa ada seekor kuda yang tergelincir jatuh disebabkan sebuah lubang di jalan yang belum ia perbaiki. Umar merasa bahwa semua itu pasti Allah mintai pertanggungjawabannya. Kesadaran seperti inilah seharusnya yang dimiliki oleh setiap pemimpin terhadap amanah yang ia pikul.

Ingat bahwa rakyat memilih supaya disejahterakan, bukan dibikin semakin menderita. Maka setiap penderitaan rakyat kelak di hari kiamat pasti akan dipikulkan oleh Allah kepada pemimpinnya.

Kedua, bahwa untuk menjalankan amanah secara jujur dibutuhkan iman yang kokoh. Iman bahwa Allah melihat segala perbuatannya, maka ia hati-hati karena takut kepada-Nya. Iman bahwa dunia bukan segala-galanya, melainkan akan dihancurkan dan akan diganti dengan alam Akhirat. Di sanalah setiap insan akan diadili di hadapan Allah yang Maha Mengetahui, maka ia bersungguh-sungguh menjalankan amanah tersebut. Bila seseorang benar-benar mengimani makna amanah ini, maka tidak ada amanah yang dikhianati.

Sungguh telah terbukti dalam sejarah, bahwa hancurnya sebuah negeri dan terlantarnya kemanusiaan adalah kerana kebusukan akhlak pemimpinnya dalam menjaga amanah. Ingat bahwa segala fasilitas untuk memenuhi kebutuhan manusia sudah Allah sediakan secara seimbang. Tidak mungkin Allah mendzalimi makhluk-Nya. Maka jika ternyata ditemukan ketimpangan di sana-sini itu pasti terjadi karena adanya kedzaliman yang diperbuat oleh manusia sendiri.

Benar, dunia ini tidak butuh banyak kehebatan dan keahlian manusia. Dunia ini sudah Allah lengkapi segala fasilitasnya. Bertahun-tahun manusia telah menjalani hidup di muka bumi. Dan terbukti bahwa memang Allah sediakan segala kebutuhan manusia. Berdasarkan ini, sebenarnya dunia ini hanya butuh satu kata: “kejujuran” (menjaga amanah). Bila kualitas ini hilang dari perilaku manusia, jangan di harap keseimabangan hidup akan berjalan dengan baik, apapun keahlian dan kehebatan teknologi yang dicapai manusia.

Ketiga,  kata amanah identik dengan kata aman. Ini menunjukkan bahwa menjaga amanah dan menjalankannya dengan baik itu identik dengan memberikan rasa aman kepada kemanusiaan. Sebaliknya mengkhianati amanah adalah identik dengan menyebarkan kegelisahan bagi kemanusiaan.
Bila seorang kepala rumah tangga tidak amanah pasti penghuni rumah tangga tersebut tidak akan mendapatkan rasa aman. Istri dan anak pasti akan tercekan kegelisahan sepanjang masa. 

Lebih luas lagi, bila seorang pemimpin desa tidak amanah, pasti seluruh penduduk desa tersebut akan merasa menderita. Lebih besar lagi, bila seorang pemimpin kabupaten atau propinsi tidak amanah, sungguh bisa dipastikan bahwa seluruh rakyat di kabupaten atau di propinsi tersebut akan terseok-seok, jatuh dalam jurang penderitaan tak terhingga. Lalu bayangkan apa yang akan menimpa sebuah negeri bila sang pemimpin negeri dan seluruh jajaran kebinetnya tidak amanah? Wallahu a’lam bishshawab.

KulTwit Belajar Shalat Khusyu ( Bag. 1)

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 9 Sep 2012 | 9/09/2012

Ilustrasi
Sesuai janji kmarin, kita mau Share tentang Belajar shalat khusyu. Tpi udah selesai shalat Isya ya. Follow @PUSKOMDA_PRITIM :) 

1. Sobat, InsyaAllah udah pada shalat isya kan & berjama'ah :) Gmana ada "Sesuatu" ktika udah selesai shalat ? Khusyu kah... ?

2. Bicara khusyu kita serahin ke yang punya Ilmu nya deh. Kita simak bareng2 yuk. dgn hastag #SK (Shalat Khusyu).

3. "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (Yang Hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat Untuk mengingat aku"(QS.20:14)

4. Cemas, Gelisah, Gersang, dll. yang membuat hati Galau. Ingatlah Dia Allah melalui shalat. Shalat yang khusyu. #SK

5. Pertanyaan nya seperti apa shalat khusyu itu ? apakah fokus, tau arti bacaan, atau yang lain nya ? #SK

6. Sejak kecil kta mulai blajar shalat, tapi tidak diajarkan bgmana meraih khusyu. kta hnya disuruh menghafal bacaan & gerakan. #SK

7. Slama ini shalat dianggap memberatkan, menjemukan, atau tdk ada greget yang mempengaruhi mental untuk lbih baik. #SK

8. Akibatnya selesai shalat ga ada sedikitpun dampak pd jiwa, malahan ktika Ramadhan berlomba adu cepat selesai shalat. #SK

9. Ya, karena kita blum tau/mrasakan dampak luar biasa, Blum menjadi sebuah kebutuhan akan shalat itu. #SK

10. Padahal Nabi, mngatakan Shalat adalah pandangan menyejukan hatinya, suatu amalan yang paling disukainya. #SK

11. Bgmana ketika seorang Sahabat, terkena panah. dan suruh mencabut nya ketika shalat. biar tidak terasa sakitnya. #SK

12. Shalat mengandung 5 unsur yg dpat mengurangi rasa Galau itu: Meditasi/Do'a, Relaksasi, auto sugesti, group therapy, hydro-therapy. #SK

13. Meditasi/Do'a : menyerahkan semua urusan kita pada pada Allah serta berharap kepada Nya Yang Maha perkasa. #SK

14. Relaksasi : Melalui gerakan gerakan shalat, dunia kedokteran telah membuktikan manfaat kesehatan bagi jiwa dan raga. #SK

15. Auto Sugesti : Dalam setiap bacaan shalat banyak mengandung kekuatan. Silahkan Baca Rahasia Bacaan Shalat. #SK

16. group therapy : dalam shalat berjamaah, atau sendirian hanya ada aku dan Allah. kita bisa curhat sepuanya. #SK

17. hydro-therapy : Terapy relaksasi dengan Air sebelum shalat, seperti Wudhu dan mandi. #SK

18. Shalat merupakan aktivitas jiwa (Soul), cz shalat adlah proses perjalanan spiritual yang penuh makna untuk menuju Allah. #SK

19. Para Ahli psikology menyebut shalat sebagai proses untuk memasuki kesadaran psikology transpersonal. #SK

20. Islam menempatkan Zat Yang Maha Mutlak sbg puncak tujuan ruhani, sandaran istirahat jiwa, sumber hidup, kekuatan, & inspirasi. #SK

21. Ketika shalat, ruhani brgerak munuju Zat Yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dri keadaan riil & panca indra.... #SK

22.  .... Mlepaskan diri dari sgala macam keruwetan peristiwa disekitaranya. Shalat merupakan pertemuan hamba dgn Tuhannya. #SK

23. Bnyak pertanyaan & jwaban braneka ragam tentang shalat khusyu. Tpi pda pokoknya harus menyentuh hakikat shalat. #SK

24. Hakikat shalat khusyu itu : Rasa Berkomunikasi & Menerima respon yang disembah. #SK

25. Untuk khusyu kita bukan diajak untuk konsentrasi & mencari khusyu. kita hanya perlu menyadari bhwa Allah itu dekat...

26. ...Allah menyambut setiap do'a, Allah memandang & mnurunkan ketenangan langsung kpd hati kita yang gelisah dan gelap. #SK

27. kita hanya perlu datang kepada Allah dgn apa adanya, tdk perlu merekayasa. Inilah Kita ! orang gelap yg butuh penerang #SK

28. ...Yang banyak lupa dan menunggu peringtan, bodoh yang menunggu pengajaran, Orang gelisah yang butuh ketenangan. #SK

29. Khusyu tdk akan mungkin didapat, jka tdk menyadari & percaya saat shalat kita sdang berhadapan dengan Yang Maha Penyayang. #SK 

30. Ada juga pertanyaan, Sulit berkonsentrasi ? ktika shalat pikiran tetap melayang tdk bsa dikendalikan, tau tau sudah usai shalat. #SK

31. Hal ini disebabkan krena Otak mempunyai dua belahan. Otak Kiri dan Kanan yang berjalan sbg mana fungsinya. #SK

32. Kenyataan nya slama ini, Shalat kita hanya menggunakan otak kiri. menghitung rakaat, bacaaan, dll. dan otak kanan entah kmana. #SK

33. Otak kanan coba kita fungsikan dgn ksadaran spiritual, yaitu mrasakan kehadiaran Allah (Ihsan). #SK

34. Bila otak kiri dan otak kanan, sudah berjalan dan seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikikan, inilah konsentrasi. #SK

35. Konsentrasi pun, akan dihasilkan dari NIAT. "Sesungguhnya segala perbutan tergantung niat..." (HR. Bukhari). #SK

36. Kita yang awam, menyadari Niat berubah pengertian nya menjadi "Membaca Niat". padahal bukan hanya itu saja. #SK

37. Niat sperti Lomba Balap Sendok, yang diatas sendok ada kelereng lalu di gigit. dan berlari secepatnya hingga finish. #SK

38. Kita akan merasakan seluruh fungsi tubuh kita bekerja dgn kesadaran untuk tidak jatuh & mencapai Finish. #SK

39.  ITULAH NIAT, bukanlah hanya sebuah bacaan tetapi suatu perbuatan yg didalamnya trdapt kesadaran penuh. #SK

40. Dalam pengertian Fiqh, Niat yaitu menyengaja melakukan suatu prbuatan, dgn penuh kesadaran. #SK

41. Selain itu, untuk khusyu juga. kita perlu tuma'ninah. dan ini adalah sebuah teknik Relaksasi dlm Shalat. #SK

42. Bela diri Tai Chi, melakukan gerakan alur tubuh secar alami. Begitupun tuma'ninah aspek meditasi jelas skali. #SK

43. Tuma'ninah yaitu sikap tenang atau diam sejenak sehingga dpt mnyempurnakan perbuatan nya. Banyak hadits yg menjlskn ini. #SK

44. Kbanyakan orang menganggap jumlah bacaan jdi alat ukur selesainya setiap gerakan shalat.pdahal bukan itu. #SK

45. Setiap bacaan, Gerakan, merupakan autotherapy dan autosugesti yg berdmpak pda ketenangan batin & fisik yg luar biasa. #SK

46. Sehingga Boleh jadi berdiri, Ruku, Duduk dan Sujudnya lebih lama. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. #SK

47. Beliau melakukan dgn tenang dan rileks. Sehingga selesai shalat mendapatkan Peak experience (Lebih Enak dr Pada Tidur). #SK.

49. Wudhu' juga dapat mendukung shalat kita agar khusyu.Tapi, kita jarang memperhatikan kesempurnaan wudhu. #SK

50. Seyogyanya kita berwudhu' sebagai bentuk peribadatan sperti halnya melakukan shalat, karena wudhu' mrupakan proses pembersihan jiwa. #SK

51. Dlm Hadist Bukhari Muslim dri Ustman Bin Affan. Berwudhu, kemudian laksakanakan shalat dua rakaat. niscaya keluarkan dia dari segala dosa. #SK

52. Kesempurnaan shalat sangat tergantung pda ksempurnaan wudhu' nya. jka wudhu' tdk dlm keadaan ingat pd Allah maka tdk akan brdampak apa apa. #SK

53. "Barang siapa mengingat Allah ktika Wudhu', niscaya disucikan oleh Allah tubuhnya secara keseluruhan. dan barang siapa.... #SK

54. ...tiada mengingat Allah niscaya tidak disucikan oleh Allah dari tubuhnya selain yang kena air saja". (HR. Abdul Razaq Filjam Ishaghir). #SK

55. Shalat Khusyu juga bisa didapat dengan ketenangan pikiran yang merupakan hal yg terpenting untuk memulai berdialog dgn Allah shingga kita bisa mnerma kehadiran Ilham ke Dalam jiwa. #SK

56. Faktor eksternal, sperti kondisi tempat dpat mmpengaruhi ketenangan, Wangi wangian misalnya. #SK

Sumber : Akun Twitter @PUSKOMDA_PRITIM

Ketika Aktivis Mengeluh

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 20 Agu 2012 | 8/20/2012

Islammedia - Menjadi aktivis dakwah itu enak. Bisa selalu sibuk, semua kegiatannya merupakan hal-hal yang diridhai Allah, banyak teman bahkan banyak saudara yang siap saling membantu dalam kebaikan dan takwa.

Ahmad, sebut saja namanya begitu, tidak setuju dengan pendapat saya. Menurutnya, menjadi aktivis itu melelahkan. Mengurus kuliah saja sudah menguras waktu dan tenaga, bagaimana pula jika ditambah mengurusi dakwah yang kegiatannya 24 jam sehari, tujuh hari sepekan?

Saya jawab, cinta membuat semua kesibukan itu terasa mengasyikkan. Tanpa cinta, upaya yang menghabiskan waktu dan tenaga memang terasa melelahkan. Dengan cinta, segala keletihan berubah menjadi keasyikan. Semakin keras berupaya, semakin asyik rasanya. Seperti naik roller coaster atau arung jeram, semakin menantang semakin diminati.

Badrun, juga bukan nama sebenarnya, tidak setuju dengan pendapat saya. Menurutnya, cinta itu mudah datang dan pergi. Kadang kita aktif dengan penuh semangat dan cinta, kemudian esoknya menjadi sangat malas dan bosan.

Saya jawab, itu namanya bukan cinta tetapi mood. Orang yang mud-mudan (moody) memang cepat berubah-ubah. Seperti bandul pendulum. Kadang mengayun ke kanan menjadi sangat rajin berdakwah. Sebentar kemudian minatnya menurun, sampai ke sudut kiri, terjerumus dalam dosa-dosa. Kemudian menyesal, kembali aktif, kemudian bosan, kembali malas dan seterusnya. Saya katakan, obat bagi orang yang moody adalah disiplin dalam arti `memaksakan diri'. Jangan ikuti kemalasan. Lawan kemalasan itu, kalau perlu bunuh dan gali kuburan buatnya dalam-dalam. Lalu paksakan diri untuk kembali aktif.

Kata Tarman juga bukan nama sebenarnya, "Ia tidak bisa menikmati dakwah kalau caranya harus dengan memaksa diri begitu."

Saya jawab, orang-orang yang sedang ber-mood negatif memang harus mengabaikan aspek kenikmatan atau keasyikan pada awal aktifitasnya. Cukup menyadari bahwa dakwah ini adalahwajib, lalu paksakan diri. Sebentar kemudian, insya Allah, rasa malas itu akan hilang; bisa jadi karena menyaksikan sahabat yang berjuang keras, atau memandang wajah ceria anak-anak yatim yang menerima santunan, atau ketika pengurus masjid mengucapkan terima kasih sambil mendoakan kebaikan dengan tulus. Paksakan diri untuk langkah pertama, insya Allah langkah-langkah berikutnya menjadi nikmat dengan ridhaNya. Percaya dan coba sajalah. In ahsantum, ahsantum lianfusikum, jika kamu berbuat baik, maka sebenarnya kamu sedang berbuat baik untuk dirimu sendiri… (QS Al Isra': 7).

Tsaurah juga bukan nama sebenarnya, setuju dengan pendapat saya, tetapi ia nyeletuk,"Ada masanya kita kecewa dengan dakwah. Meski sebenarnya kita sangat mencintai dakwah, beberapa hal terasa sangat mengecewakan. Misalnya ketika dakwah tampak dikemudikan menuju arah yang keliru."

Saya katakan, munculnya kekecewaan setelah cinta yang menggelora merupakan saat-saat ujian komitmen, ujian kesetiaan. Banyak orang diberi karunia sehingga bisa jatuh cinta kepada dakwah, tetapi tidak sanggup mempertahankan cintanya ketika kekecewaan atau kecemburuan datang. Aktif berdakwah ketika sedang jatuh cinta adalah wajar, tetap aktif meski sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan barulah pertanda kesetiaan yang tinggi. Inilah komitmen, dan inilah yang insya Allah bisa menjaga ke-istiqamah-an. Allah sangat memuji kesetiaan sehingga berfirman:

"Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu adalah orang-orang yang berjanji setia kepada Allah, Tangan Allah berada di atas tangan mereka." (QS Al Fath :10)

Saya tambahkan lagi, kekecewaan yang menimpa para pecinta dakwah bisa juga disebabkan oleh tuntutan perfeksionis dari sang aktivis. Maunya serba sempurna, ya sempurna ajarannya, ya sempurna jalannya, sempurna juga semua penyeru/aktivisnya. Ketika ia mendapati beberapa aktivis ternyata tidak sempurna, menjadi kecewalah hatinya lalu ia mengundurkan diri dari harum semerbaknya jalan dakwah. Perfeksionisme sendiri bisa diibaratkan pedang bermata dua. Satu sisinya merupakan pelecut motivasi membakar semangat untuk berdakwah habis-habisan, sisi lainnya merupakan kritikus sadis yang dengan pedas mengatakan bahwa tanpa kesempurnaan, seluruh rangkaian dakwah hanyalah kekonyolan yang sia-sia saja.

Juhdi juga bukan nama sebenarnya, bertanya, "Bagaimana cara agar kita tidak menjadi aktivis romantis yang hanya aktif ketika sedang mood? Bagaimana supaya kita tetap berkomitmen sepanjang hayat dan tidak mudah berhenti ketika kecewa?"

Saya katakan, dakwah adalah kesatuan kata dan perbuatan. Kita tidak bisa memilih salah satu dari kedua hal tersebut. Jika seseorang hanya aktif dalam dakwah perkataan, sebentar kemudian ia akan merasa bahwa dirinya tidak lebih dari penjual obat di pinggir jalan. Sebaliknya jika seseorang hanya beramal tanpa mau mengajak dengan lisannya, lama-lama ia merasa jenuh seolah dirinya telah berbuat melebihi para ustadz yang `hanya' berteriak-teriak saja. Ia merasa telah cukup melakukan amal-amalnya, tidak merasa dituntut untuk meningkatkannya lebih baik lagi. Tidak jarang kemudian mereka bermalas-malasan dengan alasan: kan saya bukan ustadz. Para ustadz tuh yang harus selalu tampil baik agar tidak mengecewakan umat…. sedangkan saya kan orang biasa. Hanya dengan menyatukan aktifitas dalam kata dan perbuatan insya Allah komitmen selalu terjaga.

Hamid juga bukan nama sebenarnya, menyangkal. Menurutnya, sekarang banyak aktivis yang meski giat berkata dan berbuat ternyata tidak tahan ketika dunia menghampirinya. Biasanya setelah menduduki sebuah kursi jabatan atau berhasil menjadi pengusaha sukses, sang aktivis menjelma menjadi penghamba dunia yang hobinya pamer mobil bagus, gadget mahal, rumah gedongan, dan berburu atribut-atribut duniawi lainnya.

Saya balik bertanya, mengapa Hamid menjadikan pencapaian duniawi sebagai tolok ukur menurunnya komitmen dakwah seseorang? Seharusnya kita melihat kinerja, bukan sekedar penampilan duniawi. Tidak ada salahnya seorang da'i yang dulu pengguna angkutan umum sekarang kemana-mana naik unta merah metalik, apalagi jika hal itu membuatnya lebih produktif. Tidak mengapa seorang ustadz membawa-bawa gadget keren, jika gadget tersebut membuat jadwal dan presentasi dakwahnya semakin sistematis dan berkah. Merupakan kebaikan jika aktivis memiliki rumah besar sehingga acara recruitment tidak perlu menyewa vila di luar kota yang jauh, melelahkan dan sulit dijangkau.

Kholid juga bukan nama sebenarnya, ikut urun rembug. Ia berkata bahwa dakwah pada masa sekarang terasa kurang menyentuh hati. Rasanya kering dan gersang. Kalau dulu liqa' di hamparan karpet hijau sederhana dengan air putih dan roti kering atau penganan sekedarnya terasa bagai siraman air surga, sekarang pertemuan di rumah mewah dengan sajian enak-enak dan presentasi canggih hanya terasa formal dan hambar mirip meeting kantor atau arisan sebuah perkumpulan.

Saya jawab, seharusnya kita memiliki komitmen yang dinamis. Dakwah memiliki masa-masa yang berbeda, ada masanya penuh ujian yang berat, ada pula masanya dakwah ini dibanjiri ghanimah melimpah dari segala arah. Yang penting tetap dalam komitmen kepada Allah, tetaplah menjadikan dunia itu sebagai sarana di tangan, jangan sampai ia merasuk ke dalam hati. Bukankah para Rasul juga berbeda-beda? Ada Nuh `alaihis salaam yang sedikit pengikut, ada Sulaiman `alaihis salaam yang menjadi raja segala makhluk, ada Isa Al Masih `alaihis salaam yang seumur hidup dikejar-kejar dan ada pula Muhammad shalallahu `alaihi wa sallam yang sukses gemilang tetapi tetap mengencangkan sabuknya karena lapar. Komitmen yang statis hanya cocok untuk satu corak ujian saja, komitmen yang dinamis bisa mengatasi ujian dalam semua coraknya.

Daridin juga bukan nama sebenarnya, yang semula diam menyimak rupanya tertarik untuk nimbrung. "Dimana kita bisa bertemu dengan aktivis sesuai gambaran tadi? Penuh cinta, tidak mud-mudan, selalu berkomitmen dan bisa dinamis mengikuti naik-turunnya dakwah di panggung kehidupan?"

Saya tertegun sebentar, kemudian menjawab pelan. Di luar sana ada beberapa tokoh yang bisa kita sebut, tetapi kita tidak perlu menyebut mereka satu persatu. Seharusnya kita menghadapkan telunjuk kepada diri kita sendiri. Meski kita adalah orang baru dalam dakwah ini, meski kita baru belajar membaca dan menulis sambil belajar menyampaikan dakwah semampunya, tetapi insya Allah inilah calon-calon aktivis dengan berbagai kriteria tersebut, Bismillaah…

Samir Nasri Ucapkan Selamat Idul Fitri Setelah Mencetak Gol

Roberto Mancini bisa bernafas lega. Itu setelah di laga pembuka Liga Primer Inggris anak asuhnya mengalahkan Southampton, 3-2 di Etihad Stadium, Ahad (19/8) malam. Namun sorotan pertandingan itu tertuju pada selebrasi yang dilakukan Samir Nasri. Gol ketiganya menjadi penentu raihan tiga angka Manchester City.

Usai mencetak gol, gelandang asal Perancis tersebut berlari ke pojok lapangan sembari membuka jersey. Dia menunjukkan kepada kamera sebuah pesan di kaos dalam yang dikenakannya. "Ied Mubarak," begitu bunyi pesan itu.

Nasri merayakan golnya di hari ketika dia tengah merayakan Idul Fitri. Kebahagiaan di tengah momen lebaran mampu dikonversikannya dengan bermain penuh determinasi di lapangan. Tidak salah dia menjadi penyelamat the Citizen di laga perdana resmi mereka.

Sekitar tiga jam sebelum kick off, Nasri sudah menyampaikan pesan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada penggemarnya. Lewat akun twitter-nya, @SamNasri19, ia berbagi kebahagiaan menyambutnya datangnya hari kemenangan dan penuh kemuliaan. "Aid mabrouk a tous les musulman, Eid Mubarak to all the Muslims (Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi semua kaum Muslim di dunia)" kicau mantan pemain Arsenal itu.

Kebahagiaan juga dirasakan Edin Dzeko. Pencetak gol kedua City tersebut juga sedang merayakan lebaran. "Bajram Serif Mubarek Olsun! Eid Mubarak! May Allah bless you and your families with happines (Semoga Allah memberkati kita dan keluarga kita dengan .penuh kebahagiaan)," ujar pemain timnas Bosnia itu.
Gol-gol City sebelumnya tercipta oleh aksi Tevez (40') dan Edin Dzeko (72'). Southampton sempat memberi kejutan dengan dua gol dari Rickie Lambert (59′) dan Steven Davis (68′) *sumber : dari berbagai sumber

Kisah Lelaki Yang Menggeser Batu

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 24 Jul 2012 | 7/24/2012

Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juruselamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukannya.

Lalu Tuhan menunjukkan padanya sebuah batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa ia harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya.

Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari. Bertahun- tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya sering menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia.

Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblis pun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya " Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannnya."

Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki itu bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat.

"Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?" pikirnya. "Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik."

Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan.

"Tuhan," katanya " Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatanku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?'"

Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian," Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata bahwa tugasmu adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu seperti yang telah kau lakukan. Tapi tidak sekalipun Aku berkata bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar? Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus- menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatku, sekarang akan memindahkan batu itu. "

Nah Sahabat, Terkadang ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya....


So... Sahabat tetap berusaha dan berdoa

“Wahai Muhammad jika hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku sangat dekat. Aku akan menjawab permohonan mereka apabila mereka berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah 186)

Kita Kejar Keutamaan Di Bulan Sya’ban Yuk

Written By PUSKOMDA Priangan Timur on 4 Jul 2012 | 7/04/2012


Bulan Sya’ban adalah bulan yang ke-8 dalam sistem kalender Islam. Bulan Sya’ban berada di antara bulan hijriyah Rajab dan Ramadhan. Nama bulan ini berakar dari kata bahasa arab tasya’aba yang berarti berpencar. Pada masa itu, kaum arab biasa pergi memencar, keluar mencari air. Bulan Sya’ban juga berasal dari kata sya’aba yang berarti merekah atau muncul dari kedalaman karena ia berada di antara dua bulan yang mulia juga.

Rasulullah menyebut bulan Sya’ban ini sebagai bulan yang sering dilupakan manusia. Ia dilupakan karena berada di antara dua bulan yang menyedot perhatian: bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab diperhatikan karena ia merupakan salah satu dari bulan Haram, sementara Ramadhan karena adanya kewajiban puasa sebulan penuh di dalamnya.

Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Rasulullaah biasa memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Beliau hampir penuh puasa di bulan ini. Beliau hanya berbuka atau tidak berpuasa pada beberapa hari saja.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (H.R. Al Bukhari dan Msulim)

Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani)

Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.

Keistimewaan Sya’ban

Ternyata, puasa beliau ini mengandung hikmah yang luar biasa. Dari sisi fisik, ia merupakan persiapan bagi kita untuk menghadapi puasa di bulan Ramadhan yang sebulan penuh. Dari sisi spiritual, hadits berikut ini menyatakan rahasia hikmah di balik memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka aku ingin [ketika] amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (Dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i, no. 2221; dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah).

Betapa tergambar kedekatan Rasulullaah akan pengawasan Allah dan keinginan beliau untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai seorang hamba kepada Rajanya. Beliau ingin mengantarkan amal-amal kebaikan yang sedang menuju keharibaan Allah dalam kondisi terbaik, terhindar dari maksiat dan dosa. Dan hal ini dapat dicapai dengan puasa.

Hikmah Puasa di Bulan Sya’ban

Ustadz Ammi Nur Baits dalam konsultasi syariahnya menyatakan bahwa ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini.

Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Memperbanyak Ibadah di Malam Nisfu Sya’ban

Kemudian beliau menjelaskan tentang para ulama yang berselisih pendapat tentang status keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:

Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan Nisfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam Nisfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11)

Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam Nisfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247). 
sumber : www.fimadani.com

Puskomda FSLDK Priangan Timur

Puskomda FSLDK Priangan Timur
 
Support : Team MCD FSLDK Priangan Timur
Copyright © 2010. FSLDK Priangan Timur - Jawa Barat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website | Editing by Team MCD
Proudly powered by Blogger